Kita Belum Siap Menghadapi Pandemi Covid-19
Egi Azwul (Cerpenis dan Musikus)*
Seeing this mass of victims, will you say, “God is avenged. Their death is the price of their crimes”? What crime, what fault had the young committed, Who lie bleeding at their mother’s breast? Did fallen Lisbon indulge in more vices Than London or Paris, which live in pleasure? Lisbon is no more, but they dance in Paris.
Voltaire
1755, Lisbon Portugal
Penggalan puisi tersebut adalah sebuah respon dari Voltaire kepada lambannya pemerintah Spanyol yang mengatakan bahwa gempa adalah takdir. Selain itu, ia juga mengkritik terjadinya kekontrasan antara apa yang terjadi di London yang tenang dengan Lisbon yang bau amis darah. Gempa yang terjadi di Lisbon, Portugal, memakan tidak sedikit korban jiwa. Penggalan puisi tersebut dirangkai Voltaire dengan penuh kritik dan pertanyaan yang menggebu-gebu. Teringat sebuah lagu dari Iwan Fals saat mengenang korban meletusnya Gunung Galunggung. Iwan fals menulis kata-kata yang sangat menarik,
Hey Tuhan
katanya Engkau Maha Bijaksana
tolong pindahkan Galunggung ke kota
dimana tempat segala macam dosa
Antara Voltaire dan Iwan Fals sebetulnya sama-sama menyatakan satu hal, bahwa manusia hanya mahluk kecil tak berdaya, yang tak mampu membaca tanda-tanda alam dan lemah menyelami lautan ilmu pengetahuan. Tidak akan terjadi banyak korban di Lisbon, jika pemahaman tentang bencana bisa diketahui. Tidak akan terjadi korban jiwa pada saat Gunung Galunggung meletus, jika masyarakat di Tasikmalaya mengerti pertanda. Dan tidak akan terjadi korban Covid-19, jika kita bisa memahami apa itu pandemic.
Neni Muhidin, sebagai penulis dan pegiat literasi kebencanaan mempertanyakan beberapa hal, kenapa literasi kebencanaan tidak dimasukkan ke dalam literasi dasar? Padahal, bencana adalah makanan kita sehari-hari. Bencana bukan hanya sebuah peristiwa, di dalamnya mengandung pencegahan atau mitigasi, pembacaan ulang mengenai sejarah bencana di lokasi tertentu, pengurangan eksploitasi terhadap alam, juga bagaimana manusia bisa mengambil keputusan saat terjadi bencana.
Literasi bencana adalah kemampuan atau kecakapan individu untuk memahami informasi terkait resiko bencana agar dia bisa membuat keputusan yang tepat. Pandemi Covid-19 ini menjadi contoh, bahwa pemerintah dan masyarakat seperti belum siap dalam menghadapi wabah ini. Meskipun jauh-jauh hari pemerintah sudah melakukan koordinasi dengan BNPB, sehingga menghasilkan lima butir koordinasi, yaitu kebijakan tata ruang, pelibatan akademisi, kepemimpinan lokal, sistem peringatan bumi dan edukasi. Tetapi pada saat pandemic Covid-19 menyebar, kelima butir tersebut buyar, karena menganggap bahwa bahwa covid-19 adalah peristiwa.
Jika kita melihat ke belakang, Flu Spanyol pernah terjadi pada tahun 1918, yang kemudian ditulis oleh Arif bahwa di Jawa dinamai Pageblug. Lantas, kenapa literasi bencana sangat diperlukan? Sebetulnya, banyak sekali bencana alam di Indonesia, dan yang terjadi itu sebenarnya hanya mengulang saja. Semisal kejadian tsunami di Palu, 100 tahun yang lalu tsunami di teluk Palu itu pernah terjadi. Atau tsunami di Aceh, beberapa abad yang lalu di Aceh pernah terjadi tsunami. Atau meletusnya Gunung Krakatau, dan bahkan meletusnya gunung Tambora. Namun adakah saksi mata yang bisa menceritakan kejadian-kejadian tersebut? Adakah catatan yang menceritakan peristiwa tersebut?
Ariful Amir, sebagai moderator menjelaskan sebuah cerita kearifan lokal di sulawesi tengah, tepatnya di kota Palu. Di sana ada cerita tentang anjing Sewari Geding bertarung dengan belut. Anjing Sawari Geding merepresentasikan gempa dan belut itu tsunami. Literasi Bencana secara kearifan lokal sebetulnya sudah ada, namun rupanya cerita tersebut tidak hidup dan tidak dihidupkan. Sehingga cerita lokal yang sudah ada kemudian hilang, sampailah istilah baru dari literasi sains yang disebut likuifaksi.
Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Palu itu sendiri baru mengenal istilah likuifaksi setelah adanya penjelasan dari para ahli. Selain itu, pemahaman tsunami pun digeneralisir, biasanya sebelum tsunami datang air surut terlebih dahulu, setelah beberapa menit kemudian datanglah tsunami. Padahal, tsunami di Aceh dengan tsunami di Palu itu sangatlah berbeda.
Seorang filolog dan penulis, Sinta Ridwan, menceritakan bahwa di berbagai daerah sebetulnya sudah ada cerita kuno bersifat lokal dengan berbentuk hikayat, manuskrip atau babad. Namun, yang terjadi kemudian adalah kenapa orang-orang tidak membaca itu dan tidak mengedukasi masyarakat dengan babad yang berpoles dengan mitologi itu. Penulis pun menambahkan, sebetulnya jika mitologi itu sangat kuat dan dilaksanakan oleh masyarakat adat tentu masyarakat akan aware dan berhati-hati.
Neni Muhidin menegaskan, bahwa literasi bencana di Indonesia sangat minim dan perlu disinergikan dengan program pemerintah seperti program Desa Tanggap Bencana, projek unggulan dari BNPB. Program Desa Tanggap Bencana ini sebetulnya sudah bagus, namun sayangnya terjadi penyeragaman. Padahal kondisi alam setiap daerah itu berbeda-beda.
Faisal Pong, seorang pegiat literasi mengutip sebuah buku karangan Jared Diamond yang berjudul Collapse. Dia mengatakan bagaimana bangsa Viking, peradaban suku Maya gagal dalam memutuskan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana. Peradaban kedua bangsa tersebut adalah sebuah contoh kegagalan, yaitu kegagalan dalam mengambil keputusan saat menghadapi bencana alam, perubahan iklim dan konflik sosial.
Sebenarnya tujuan dari literasi bencana itu adalah untuk menghidupkan Common Sense. Pada saat pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pada tanggal 14 Maret 2020 sebagai darurat nasional, barulah orang-orang sadar dengan kebersihan. Orang-orang baru menyadari betapa pentingnya PHBS atau perilaku hidup bersih dan sehat. Tapi, pengetahuan masyarakat cenderung latah, sehingga Common Sense tidak terbentuk dengan baik. Kita lihat saja, betapa kewalahannya masyarakat dalam menjalani karantina mandiri, PSBB, lockdown dan lain-lain. Sehingga tantangan di lapangan akan terasa berat, padahal wabah Covid-19 sudah menyebar.
Ariful Amir, sebagai moderator diskusi ini bertanya, Apa hubungan literasi bencana dengan ketangguhan? Apakah literasi bencana akan menyelamatkan atau tidak?
Neni Muhidin pun menjawab, bahwa mitigasi atau upaya pencegahan, atau pengurangan resiko tidak ada gunanya jika tidak menyelamatkan. Literasi bencana ini menjadi penting akan berkaittan dengan ketangguhan individu, ketangguhan komunitas, dan ketangguhan bangsa Indonesia. Dengan literasi bencana, ke depannya bertujuan agar masyarakat Indonesia tidak berasumsi bahwa urusan bencana hanya kewajiban Pemerintah, BNPB, SARS, TNI, BPBD dan PMI.
Ada cerita lokal yang menarik, cerita ini tumbuh di masyarakat bantaran sungai Ciwulan, yang memanjang dari hulu Gunung Cikuray sampai muara di Kabupaten Tasikmalaya. Konon, di sungai Ciwulan ada beberapa hantu yang bernama Bulu Carang dan Leled Samak. Kedua hantu ini hidup di sepanjang sungai dan selalu memantau keadaan sungai, jika ada orang yang membuang sampah sembarangan maka orang itu akan dililit oleh hantu Leled Samak. Dan apabila ada orang yang mengeksploitasi sumber daya alam berupa pasir atau batu, maka orang tersebut akan dikubur oleh Bulu Carang.
Kedua hantu ini seperti dongeng, namun cerita lokal berbentuk literasi bencana ini akan mengurangi dampak dari eksploitasi alam. Sehingga bencana yang akan terjadi karena eksploitasi alam akan berkurang. Sebenarnya masih banyak literasi bencana yang bersifat lokal di setiap daerah, dan untuk menghidupkan cerita tersebut adalah tantangan tersendiri untuk pegiat literasi bencana.
Neni Muhidin menutup diskusi tersebut dengan memberikan penjelasan ulang apa yang dimaksud dengan Literasi Bencana. Menurut dia, literasi bencana merupakan kemampuan individu untuk memahami semua siklus bencana, memahami bahwa bencana adalah keseharian orang Indonesia, dan bencana bukan sebatas peristiwa.
*Tulisan ini sebagai reportase dalam rangkaian acara Hari Buku Sedunia 2020 yang dihelat oleh Perkumpulan Literasi Indonesia, Neni Muhidin hadir sebagai pembicara untuk tema "Bencana dan Literasi Ketujuh. Adapun untuk tulisan saya yang sudah dipublish bisa teman-teman kunjungi laman Tirto berikut".
#HariBukuSedunia2020
#PerkumpulanLiterasiIndonesia

Comments
Post a Comment