Badan sudah lama tak bergerak, pikiran kian tumpul dari filsafat, sama halnya dengan kawan Socrates yang enggan keluar dari goa. Aku hanya berdiam diri di kamar, memandangi buku-buku yang suram, atau pergi ke warung kopi untuk melepas penat. Kamar kost dan warung kopi rasanya sudah mengekangku, kesibukanku hanya itu-itu saja. Jika dikatakan hedon, ya, jika dikatakan konsumerisme, ya, terserah lah, aku hanya manusia desa yang terjebak di tubuh kota. Kejenuhan itu sudah lama aku rasakan, bahkan aku sudah mengkultuskan warung kopi sebagai rumahku yang kedua. Namun hari ke hari pengkultusan itu buyar dengan ketidak nyamananku akan ketergantungan, candu yang membuatku mabuk, sebuah keharusan untuk nongkrong, membicarakan ini dan itu, bergosip atau berbisnis. Jika warung kopi bisa menjawab penatku, ya, tapi itu sementara waktu, tidak membosankan namun aku perlu hal baru agar tidak terjebak di sana, terjebak pada kumpulan orang-orang hebat yang membuatku minder. Memang di warung kopi t...
Comments
Post a Comment