Menunggangi Gunung

Badan sudah lama tak bergerak, pikiran kian tumpul dari filsafat, sama halnya dengan kawan Socrates yang enggan keluar dari goa. Aku hanya berdiam diri di kamar, memandangi buku-buku yang suram, atau pergi ke warung kopi untuk melepas penat. Kamar kost dan warung kopi rasanya sudah mengekangku, kesibukanku hanya itu-itu saja. Jika dikatakan hedon, ya, jika dikatakan konsumerisme, ya, terserah lah, aku hanya manusia desa yang terjebak di tubuh kota.

Kejenuhan itu sudah lama aku rasakan, bahkan aku sudah mengkultuskan warung kopi sebagai rumahku yang kedua. Namun hari ke hari pengkultusan itu buyar dengan ketidak nyamananku akan ketergantungan, candu yang membuatku mabuk, sebuah keharusan untuk nongkrong, membicarakan ini dan itu, bergosip atau berbisnis. Jika warung kopi bisa menjawab penatku, ya, tapi itu sementara waktu, tidak membosankan namun aku perlu hal baru agar tidak terjebak di sana, terjebak pada kumpulan orang-orang hebat yang membuatku minder. Memang di warung kopi terdapat banyak berlian yang berkilauan, dan setiap saat kita bisa meraihnya, dari tiap orang aku banyak mendapatkan ilmu atau jaringan. Aku berterima kasih akan hal itu.

 Namun, hari ini aku tidak ingin pergi ke warung kopi, aku ingin mencari hal lain atas diriku, atas segala resah yang sering datang tiba-tiba, bukan perempuan, bukan perkuliahan, tapi ada yang tak bisa diungkapkan dengan satu paragraf puisi, aku ingin menamainya rindu, tapi rindu siapa, entahlah. Aku ingin mendaki gunung, lepas dari persoalan politik, wacana atau perdebatan panjang tentang agama. Aku yakin gunung bisa menenangkanku.

Beberapa hari yang lalu dapat chat di Blackberry messenger, isinya ajakan beberapa kawan yang suka dengan gunung, mereka mengajakku untuk menaiki puncak Merbabu. Awalnya aku tidak tertarik, aku akhiri pembicaraan dengan menolak ajakan tersebut. Namun, rasanya ada yang membujukku lebih dalam, mungkin hati nurani, atau kesombongan manusia dengan ketinggian. Aku selalu suka dengan ketinggian tertentu, terutama saat menyebarkan foto di puncak dengan berpose dramatis akan kesukaran mencapai puncak. Pasti aku share di facebook atau twitter, untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar menaklukan gunung.

Tetapi, kali ini rasanya sangat berbeda, aku seperti merasakan hal lain, aku merindukan sesuatu yang tidak pernah kutemukan, rindu yang yang tak jelas ujung pangkal, rindu yang tak disebabkan oleh materi, rindu yang menjadi antitesis dari materialisme klasik maupun naturalisme.

Dalam kebimbangan, aku memutuskan untuk ikut muncak bersama kawan-kawanku itu. Mereka sangat gembira mendengar kesiapanku untuk berangkat bersama mereka. Beberapa peralatan yang sudah lama tak kupakai, kukeluarkan satu persatu, tas ransel 60 liter, jaket tebal, sepatu waterproof, kaos tangan dan perlatan lainnya kukeluarkan. Aku memandangi barang-barang itu seperti berjumpa dengan kawan lama yang tidak sengaja dipertemukan di sebuah tempat antah berantah. Ada kebahagiaan, ada juga kenangan. Aku hanya tersenyum mengingatnya.

Kami berangkat 11 orang, 8 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Mereka bukan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), kata mereka untuk mencintai alam tidak perlu dilembagakan, sehingga mereka tidak menamakan dirinya apa-apa, anonim lebih tepatnya. Tapi ada kawanku yang bernama Odongs, dia mengikrarkan dirinya menjadi Matipala (Mahasiswa tidak pecinta alam). Kami hanya tertawa mendengar ikrarnya sepanjang jalan menuju basecamp.

Setelah sampai di basecamp, kami tidak langsung mendaki Merbabu, kami masih menunggu dua orang lagi, satunya dari Bandung, dan satunya lagi dari Jogja. Sehingga kami memutuskan untuk berangkat keesokan harinya, dan untuk sementara malam ini harus menginap di basecamp.

Esoknya, pagi yang sangat cerah, suhu dingin yang merobek tulang, disertai angin yang berkibas pelan, aku menyeduh kopi dan menikmati asap rokok yang mengepul dari mulutku. Aku menyaksikan gunung Merapi sedang berdiri anggun, sangat dekat sekali, seperti gunung tetangga yang punya hubungan baik, ya, Merapi dan Merbabu seperti saudara. Aku hanya terperangah menyaksikan asap yang keluar dari kawah merapi, aku teringat dengan kejadian bulan oktober 2010 saat merapi erupsi.

Tidak lama, kawanku yang ditunggu-tungu akhirnya datang juga. Mereka datang tergesa-gesa dan meminta maaf karena terlambat datang. Setelah itu, selang beberapa menit kami langsung packing dan melakukan pembagian beban barang yang akan dibawa. Karena perempuan tidak mungkin membawa beban yang berat, akhirnya para lelaki membagi beban dengan adil. Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu, kami sadar, di atas sana ada yang lebih berkuasa dari daya survive manusia.  

Aku tak ingin mendramatisir perjalanan ke puncak, dari mulai kabut tipis hingga kabut tebal. Atau jangan-jangan itu bukan kabut, mungkin awan, ah aku tidak bia membedakan mana awan dan mana kabut. Kami melewati beberapa pos, kemudian melewati sabana 1 dan 2. Memang sangat melelahkan, jalur yang kami daki sangat terjal, ada track yang mengharuskan pakai tali tambang. Beberapa dari kami ada yang mengeluh dan meminta berhenti berkali-kali, termasuk aku yang kelelahan, kaki terasa pegal dan nafas yang tak teratur. Ingin rasanya menangis, tapi malu, seperti kata Chairil, “aku sudah bukan kanak lagi”. 

Untungnya dalam perjalanan kami ada Odongs dan Rizal, sepanjang jalan mereka terus membicarakan kegilaan mereka, tingkahnya sangat absurd, bahkan ide-ide yang keluar dari mulut mereka sangat tidak masuk akal, namun membuat geli. Aku terbahak-bahak mendengarkan mereka mencoba menghibur kami yang kelelahan. Seperti abu Nu`aim di zaman Rasul, dia adalah tokoh yang membunuh keformalan. Keseriusan mendaki gunung seperti yang lainnya, ternyata mereka coba sederhanakan dengan guyonan yang sederhana pula. Tidak mau kusebutkan apa saja isi guyonannya, aku tidak mau diri mereka dieksploitasi oleh tulisanku ini, cukuplah aku dan teman-temanku yang tersenyum ketika mengingatnya.

Sungguh tak bisa dibeli, tak bisa dibayar, perjuangan kami untuk menggapai puncak membutuhkan waktu yang sangat lama. Bukan persoalan materi yang kami keluarkan, atau waktu yang kami buang untuk sekedar mendaki gunung, sungguh, tak bisa dibeli dengan apapun. Tawa, lelah, canda, dingin adalah bumbu, nyatanya ketika mencapai puncak, semuanya telah dibayar. Yang bisa membayar semua kelelahan itu adalah ketika di puncaknya. Ketika aku sampai pada titik kemakrifatan gunung, aku bersyukur, setelah hampir enam tahun, utangku terhadap merbabu kini telah tuntas. Terima kasih kawan-kawanku, Sugih, Odongs, Rizal, Jambrong, Sambas, Hevy (senang), Aang, Tya, Ira dan Sari. Terima kasih sudah tabah menemani saya sampai ke puncak Merbabu.
Cheers  Sarvod!!!


11, Januari 2015

Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja