Butt Brush Efect, Sebuah Seni Dalam Berbisnis


Seni tidak hanya mencakup pada musik, sastra, dan rupa. Tetapi seni menyangkut banyak hal, termasuk dalam berjualan. Pada tulisan ini saya akan mencoba berbagi berdasarkan social eksperiment mengenai karakter pembeli. Pebisnis yang mempunyai retail atau toko yang bersifat offline (warung) seharusnya memahami beberapa pengalaman ini. Siapkan kopi dan kencangkan musik ya, sobat blogger.


Saat saya belanja bersama istri di sebuah toko baju, kebetulan persiapan lebaran, saya cukup terkesan dengan pengalaman yang menarik. Saat istri saya memilih beberapa baju, ada seorang pelayan menghampiri dan berkata, “Ayo mbak, silakan dipilih bajunya, ini model terbaru semua”. Istri saya pun kaget sambil melirik saya, membalas senyum ke pelayan, lalu mengajak saya pergi ke toko lain.

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali saja, dan istri saya sering mengeluhkan hal tersebut. Istriku ternyata lebih nyaman dengan self service, tanpa perlu ada pelayan yang menjelaskan barang tersebut, kecuali jika memang perlu bantuan pelayan untuk menanyakan apakah ada ukuran lain,  stok terbaru, atau meminta saran mengenai barang yang akan dibeli.

Lalu ada contoh lain, ketika istri saya membeli makanan Junk Food di sebuah supermarket. Saat ia memilih makanan, ada seorang ibu-ibu berdiri di belakangnya dan melihat barang yang sama, setelah itu istri saya kelihatan tidak nyaman dan memilih untuk pergi. Padahal, makanan tersebut adalah makanan favoritnya.

            Perilaku pembeli seperti ini ternyata sudah ada riset sebelumnya. Paco Underhill, menulis sebuah buku yang berjudul Why We Buy. Dalam buku tersebut ada bagian penting yang harus dipelajari oleh pebisnis milenial. Teori tersebut dinamakan Butt Brush Effect.

            Saat saya berselancar di internet, teori ini cukup menjawab kegelisahan mengenai perilaku istri saya ketika belanja. Ternyata, seorang konsumen tidak suka dengan pelayan yang menghampiri (saat tidak dibutuhkan), dan juga tidak suka ada orang di belakang dirinya.

            Mungkin, seseorang memerlukan privasi saat berbelanja, dan itu sangat berpengaruh terhadap keputusan untuk membeli. Bahkan, dalam  buku tersebut dijelaskan bahwa Butt Brush Effect sangat merusak kenyamanan pembeli.


            Saat saya memperhatikan beberapa Vendor atau Franchise di Indonesia yang sudah mengerti dengan teori ini, misalnya Indomaret atau Alfamart. Kita bisa saksikan, pelayan mereka tidak pernah menghampiri pembeli, kecuali memang ketika ditanyakan posisi sebuah barang, maka pelayan pun menghampiri. Selain itu, posisi antara rak satu dengan rak lain cukup sempit, sehingga menyulitkan orang untuk sama-sama berdiri dalam melihat barang yang sama.

Jadi, ini merupakan pengalaman yang penting untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk para pebisnis. Jangan sampai anda salah dalam memberikan pelayanan, meskipun niatnya untuk membuat nyaman, justru pembeli jadi merasa terganggu. Bagaimana menurutmu, apakah ini membantu? Jika tulisan ini membantu, silakan share. Jika ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar.


 Artikel ini ditulis oleh Egi Azwul, Cerpenis dan Musikus dari Tasikmalaya.

 

 

 


Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja