Bencana dan Literasi Ketujuh


Oleh : Egi Azwul (Cerpenis dan Musikus)

Pada masa Pandemi Covid-19 ini tidak mengurangi antusias para pegiat literasi untuk melangsungkan helatan World Book Day 2020: Indonesia Online Festival yang bertema “Book Lovers in the Time of Corona" Perkumpulan Literasi Indonesia sebagai penyelenggara melakukan streaming menggunakan aplikasi Zoom dan Youtube live. Narasumber kali ini adalah Neni Muhidin, dan dimoderatori oleh Ariful Amir (25/4).


Bencana tidak sekadar peristiwa, tetapi bencana adalah siklus keseharian. Neni Muhidin mengatakan, “Literasi bencana seharusnya keluar dari literasi sains, karena literasi Bencana bukan hanya peristiwa tetapi sesuatu yang terjadi sehari-hari” Yang diketahui dari literasi dasar hanya ada enam literasi, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, finansial, sains, digital dan literasi budaya-kewargaan. Sedangkan, literasi bencana hanya bagian kecil yang direduksi dari literasi sains ini. Padahal, sebenarnya literasi bencana sangat diperlukan karena sangat berdampak pada kehidupan.

Neni pun menambahkan, bahwa bencana itu sebenarnya ada tiga jenis, yaitu bencana alam, non alam dan bencana sosial. Indonesa sangat berpotensi mengalami ketiga bencana ini. Semenjak peristiwa besar yang terjadi di Aceh pada tahun 2005, menjadi stimulus untuk membuat Hyogo Framework dan Sendai Framework, dan itu pun hanya dimaknai sebagai bencana alam. Hyogo dan Sendai sebetulnya nama dua kota di Jepang, yang seolah-olah Jepang mengajak seluruh dunia untuk belajar mitigasi bencana dari mereka. Sadar atau tidak, Hyogo dan Sendai Framework adalah upaya untuk mengurangi resiko bencana alam, bukan bencana seperti bencana pandemic Covid-19.

Literasi Bencana menurut Neni Muhidin merupakan kemampuan individu untuk memahami semua siklus bencana, memahami bahwa bencana adalah keseharian orang Indonesia. Ia menukil sebuah buku yang berjudul The World Without Us, karya Alan Weisman. Apa yang akan terjadi 50 tahun ke depan? 100 tahun ke depan? Sedangkan dilihat kejadian sekarang, bencana itu sangat dekat sekali dan menjadi keseharian. Itu dikarenakan populasi manusia yang semakin meningkat juga dikarenakan eksploitasi alam yang berlebihan.

Pada tanggal 02/02/2019, BNPB melakukan rapat koordinasi dengan Presiden Jokowi di Surabaya. Rapat itu melahirkan lima butir koordinasi, yaitu kebijakan tata ruang, pelibatan akademisi, kepemimpinan local, sistem peringatan bumi dan edukasi. Tidak lama setelah itu, Covid-19 pun datang dan semua butir tadi buyar. Sebetulnya kelima butir tadi sangat bagus, namun kita hanya berkutat pada Mitigasi. Sebetulnya Mitigasi tidak bisa dilakukan ketika darurat, justru mitigasi itu dilakukan sebelum datang outbreak atau wabah datang.

Pada umumnya, teori resiko diukur ancaman kali kerentanan bagi kapasitas. Teori resiko ini hanya terjadi pada bencana pada umumnya. Tetapi, teori Resiko yang terjadi pada pandemi dan epidemi seperti Covid-19 ini menjadi bertambah, yaitu keterpaparan.


Terakhir Neni menyampaikan Literasi bencana sebagai kemampuan kecakapan individu, untuk memahami informasi terkait resiko bencana agar dia bisa membuat keputusan yang tepat. Lalu, Apa hubungan literasi bencana dengan ketangguhan? Apakah literasi bencana akan menyelamatkan atau tidak? Mitigasi atau upaya pencegahan, atau pengurangan resiko tidak ada gunanya jika tidak menyelamatkan. Literasi bencana ini sangat penting dengan berkiatan dengan ketangguhan masyarakat, individu, ketangguhan komunitas, ketangguhan sebuah bangsa.

Ariful Amir, sebagai moderator menjelaskan sebuah cerita kearifan lokal di sulawesi tengah, tepatnya di kota Palu. Di sana ada cerita tentang anjing Sewari Geding bertarung dengan belut. Anjing Sawari Geding merepresentasikan gempa dan belut itu tsunami. Literasi Bencana secara kearifan lokal sebetulnya sudah ada, namun apa yang terjadi, bukannya cerita lokal mengenai Tsunami di Palu sudah ada?

Neni Muhidin pun menjawab, Masyarakat Palu memaknai Tsunami yang terjadi di sana sama dengan tsunami yang terjadi di Aceh. Likuifaksi yang terjadi di Palu sebetulnya sudah terjadi 100 tahun yang lalu, tetapi adakah saksi mata yang bisa menceritakan itu? Adakah naskah yang bisa menceritakan itu? Lalu yang dilakukan sekarang adalah upaya penggalian seperti yang dilakukan oleh Ekpedisi Palu Koro. Cerita-cerita lokal di palu sebenarnya tidak hidup dan tidak dihidupkan.

Laporan kegiatan ini ditulis oleh Egi Azwul dan dimuat di website Tirto berikut. 

Narasumber    :Neni Muhidin (Penulis dan Pegiat Literasi Kebencanaan)
Moderator       : Ariful Amir (Pegiat Literasi)


Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja