Agama Didi Kempot Dulu dan Sekarang
Saat
Almarhum Didi Kempot meninggal, banyak orang yang mempertanyakan agama apa yang
beliau anut.
Dionisius
Prasetyo atau Didi Kempot yang mendapat gelar Lord of Broken Heart tersebut
meninggal dunia pada Selasa (5/5/2020). Para sobat ambyar di seluruh dunia
merasa kehilangan, dan terkejut. Karena beberapa waktu sebelumnya mendiang
baik-baik saja, bahkan sempat mengadakan Konser Amal untuk menyumbang korban
Pandemi Corona atau Covid-19.
![]() |
| Sumber Foto : Media Indonesia |
Penggemar Lord Didi Kempot ini bukan hanya di
Indonesia saja, tetapi juga banyak dari Negara lain seperti Suriname, Belanda
dan lain-lain. Selain musik campursari yang selalu mewakili para Sadboy dan
Sadgirl, tetapi kepribadian beliau juga sangat baik. Tercermin dari sikap
rendah hatinya, kepedulian sosial dan tidak segan-segan mengikutkan teman-teman
tuna netra untuk ikut kolaborasi dalam lagunya.
Sang
Maestro Campursari ini menghasilkan ratusan lagu, dan memang kebanyakan membuat
lagu-lagu yang membuat hati sedih. Proses berkarya yang sangat lama,
menjadikannya ia sebagai seniman yang konsisten, terus berkarya dan pantang
menyerah. Sehingga lagu-lagu yang easy listening itu menyebabkan banyaknya fans
yang kehilangan saat mendengar beliau meninggal.
Padahal
orang lain sedang berduka atas kepergian Lord, lalu ada banyak netizen yang
bertanya apa sebenarnya agama yang beliau anut?
Menurut
penulis pribadi, agama seseorang itu sebenarnya sangat privasi dan tak perlu
diberitahukan. Sama halnya dengan dapur rumahmu, tak perlu kau beritahukan pada
orang lain seperti apa dapurmu. Para ahli di dunia sedang pusing bikin Vaksin
Corona, eh sobat ambyar masih sibuk ngurusin agama.
Jika
memang nama Dionisius Prasetyo adalah nama baptis, lalu apakah beliau bisa
dikatakan Katholik? Belum tentu. Semisal nama asli dari Donald Trump adalah
Ahmad Husain, apakah dia seorang muslim. Nama belum tentu menunjukan keimanan
seseorang, maka jangan iku campurlah pada hal-hal yang privasi.
Meskipun
memang Lord pernah menganut agama Kristen lalu menjadi muallaf dan masuk agama
islam, apakah itu perlu dipertanyakan? Tidak perlu. Yang perlu ditanyakan
adalah kenapa kamu selalu sibuk ikut campur atas keyakinan seseorang.
Sebenarnya saya ingin maki-maki,
tapi maklum puasa, aku tahan aja, habis magrib baru aku sambung lagi
maki-makinya. Aku terkadang heran dengan masyarakat +62 ini, hal-hal
fundamental itu bukan agama seseorang, tetapi bagaimana kamu bisa bermanfaat
untuk sesama. Bisa gak kalian mengadakan konser amal dan menghasilkan milyaran
lalu kamu sumbangkan untuk korban Corona? Tidak bisa kan. Saya sebenarnya malu,
seandainya Lord Didi Kempot masih hidup dan mengetahui kelakuan sobat ambyar
yang masih unyu-unyu ini, tentu dia akan sedih. Betapa tidak pentingnya dan
betapa percumanya untuk menanyakan agama seseorang.
Selamat
jalan Lord, meskipun aku ambyar, aku selalu
berusaha joget dan berbahagia.

Comments
Post a Comment