Posts

Showing posts from May, 2020

Agama Didi Kempot Dulu dan Sekarang

Image
Saat Almarhum Didi Kempot meninggal, banyak orang yang mempertanyakan agama apa yang beliau anut. Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot yang mendapat gelar Lord of Broken Heart tersebut meninggal dunia pada Selasa (5/5/2020). Para sobat ambyar di seluruh dunia merasa kehilangan, dan terkejut. Karena beberapa waktu sebelumnya mendiang baik-baik saja, bahkan sempat mengadakan Konser Amal untuk menyumbang korban Pandemi Corona atau Covid-19. Sumber Foto : Media Indonesia   Penggemar Lord Didi Kempot ini bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga banyak dari Negara lain seperti Suriname, Belanda dan lain-lain. Selain musik campursari yang selalu mewakili para Sadboy dan Sadgirl, tetapi kepribadian beliau juga sangat baik. Tercermin dari sikap rendah hatinya, kepedulian sosial dan tidak segan-segan mengikutkan teman-teman tuna netra untuk ikut kolaborasi dalam lagunya. Sang Maestro Campursari ini menghasilkan ratusan lagu, dan memang kebanyakan membuat lagu-lagu yang membuat hati ...

Butt Brush Efect, Sebuah Seni Dalam Berbisnis

Image
Seni tidak hanya mencakup pada musik, sastra, dan rupa. Tetapi seni menyangkut banyak hal, termasuk dalam berjualan. Pada tulisan ini saya akan mencoba berbagi berdasarkan social eksperiment mengenai karakter pembeli. Pebisnis yang mempunyai retail atau toko yang bersifat offline (warung) seharusnya memahami beberapa pengalaman ini. Siapkan kopi dan kencangkan musik ya, sobat blogger. Saat saya belanja bersama istri di sebuah toko baju, kebetulan persiapan lebaran, saya cukup terkesan dengan pengalaman yang menarik. Saat istri saya memilih beberapa baju, ada seorang pelayan menghampiri dan berkata, “Ayo mbak, silakan dipilih bajunya, ini model terbaru semua”. Istri saya pun kaget sambil melirik saya, membalas senyum ke pelayan, lalu mengajak saya pergi ke toko lain. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali saja, dan istri saya sering mengeluhkan hal tersebut. Istriku ternyata lebih nyaman dengan self service, tanpa perlu ada pelayan yang menjelaskan barang tersebut, kecuali ...

Bencana dan Literasi Ketujuh

Image
Oleh : Egi Azwul (Cerpenis dan Musikus) Pada masa Pandemi Covid-19 ini tidak mengurangi antusias para pegiat literasi untuk melangsungkan helatan World Book Day 2020: Indonesia Online Festival yang bertema “Book Lovers in the Time of Corona"  Perkumpulan Literasi Indonesia sebagai penyelenggara melakukan streaming menggunakan aplikasi Zoom dan Youtube live. Narasumber kali ini adalah Neni Muhidin, dan dimoderatori oleh Ariful Amir (25/4). Bencana tidak sekadar peristiwa, tetapi bencana adalah siklus keseharian. Neni Muhidin mengatakan, “Literasi bencana seharusnya keluar dari literasi sains, karena literasi Bencana bukan hanya peristiwa tetapi sesuatu yang terjadi sehari-hari” Yang diketahui dari literasi dasar hanya ada enam literasi, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, finansial, sains, digital dan literasi budaya-kewargaan. Sedangkan, literasi bencana hanya bagian kecil yang direduksi dari literasi sains ini. Padahal, sebenarnya literasi bencana sangat diperlukan karena...

Kita Belum Siap Menghadapi Pandemi Covid-19

Image
Egi Azwul (Cerpenis dan Musikus)* Seeing this mass of victims, will you say, “God is avenged. Their death is the price of their crimes”? What crime, what fault had the young committed, Who lie bleeding at their mother’s breast? Did fallen Lisbon indulge in more vices Than London or Paris, which live in pleasure? Lisbon is no more, but they dance in Paris. Voltaire 1755, Lisbon Portugal Penggalan puisi tersebut adalah sebuah respon dari Voltaire kepada lambannya pemerintah Spanyol yang mengatakan bahwa gempa adalah takdir. Selain itu, ia juga mengkritik terjadinya kekontrasan antara apa yang terjadi di London yang tenang dengan Lisbon yang bau amis darah. Gempa yang terjadi di Lisbon, Portugal, memakan tidak sedikit korban jiwa. Penggalan puisi tersebut dirangkai Voltaire dengan penuh kritik dan pertanyaan yang menggebu-gebu. Teringat sebuah lagu dari Iwan Fals saat mengenang korban meletusnya Gunung Galunggung. Iwan fals menulis kata-kata yang sangat menarik, Hey Tuha...