MEMBEDAKAN PENULISAN FIKSI ATAU NON-FIKSI


Menulis adalah tugas hidup manusia. Pramudya Ananta Toer pernah bercerita, bahwa jika tidak menulis maka manusia akan tergerus oleh zaman. Pernyataan Pram ini perlu kita ingat dan menjadi perhatian kaum milenial. Bagaimanapun juga, tugas menulis adalah tugas hidup. Menulis bukan hanya sebatas update status di medsos, tetapi menulis serius menceritakan keadaan sosial, politik, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Seringkali kita bingung menentukan bagaimana menulis yang bagus, menulis yang sesuai kaidah  bahasa atau menulis serampangan seperti anak TK. Ketakutan-ketakutan tersebut justru menjadi awal kemalasan untuk menulis. Selain beberapa faktor tadi, ada juga hal lain yang menjadi persoalan, yakni bingung membedakan mana tulisan fiksi atau non-fiksi.

Sebenarnya untuk menjawab persoalan kesalahan dalam kadiah penulisan akan terjawab dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.  Maka kita akan menemukan bahwa tulisan fiksi adalah imajinasi dan non-fiksi adalah fakta. Tetapi keduanya saling berkaitan, lantas keduanya memerlukan riset? Jawabannya adalah ya. Berikut saya kasih infografik mengenai perbedaan di antara keduanya.



Dari infografik di atas, sedikit kita bisa membedakan point penting di antara keduanya. Jika fiksi berasal dari imajinasi, maka pembangunan imajinasi itu terkadang perlu riset, agar imajinasi bisa teratur dan kuat secara logika. Sedangkan tulisan non-fiksi, sudah sangat jelas bahwa fakta adalah point yang sangat penting, jika tidak menuliskan fakta, maka tulisan tersebut adalah fiksi.

Kemudian dilihat dari metode penulisan, pada umumnya tulisan fiksi selalu menggunakan naratif, tetapi tidak menutup kemungkinan menggunakan tulisan deskriptif. Adapun penulisan non-fiksi , secara umum pasti menggunakan tulisan bersifat ilmiah, tidak ada konflik atau karakter, dan secara umum menggunakan bahasa yang baku.

Saya sepakat terhadap pendapat Seno Gumira Ajidarma, bahwasanya tidak perlu adanya kategorisasi untuk penulis semacam novelis, cerpenis, penyair, jurnalis, penulis buku ilmiah dan penulis naskah drama. Semuanya hanya satu kategori, yaitu penulis. Baik sifatnya fiksi atau non-fiksi.

Albert Einstein pernah bilang, "Imajination more important than science". Jika tulisan non-fiksi adalah sumber pengetahuan, maka imajinasilah pintu awal sebuah pengetahuan.

Terima Kasih sudah berkunjung ke blog saya. :)












Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja