FAUNA MENGGUGAT, SEBUAH PANDANGAN SEDERHANA



Fauna Menggugat, sebuah perspektif dalam penyelaman diri terhadap binatang. Bukan sebatas lirik, musik atau lagu saja, tetapi sebuah perasaan menyesal karena telah memperlakukan binatang secara tidak semestinya. Semisal aku menulis, bahwa politisi adalah politikus. Kenapa tikus disematkan kepada politisi? padahal tikus itu baik, bisa menjadi Jerry dan kita pun tertawa menontonnya. Hmm

Banyak sekali di sekitar kita yang menjadikan binatang sebagai objek. Bagaimana dengan hewan peliharaan? Memaki? Penggunaan peribahasa? dan lain sebagainya. Seumpama kita jadi binatang seperti kebo, apakah rela dijadikan simbol kumpul kebo? tentu tidak.

Sejatinya binatang tidak mau dirinya dijadikan objek, mereka hanya tidak mampu berkomunikasi dengan kita sebagai manusia. Mereka tentu akan menolak ketika dirinya dianggap lucu dan menjadikannya hewan peliharan. Jika perasaan kita bisa menyelami perasaan binatang, tentu kita akan mencontoh Nabi Sulaiman AS. Dia bahkan bisa bicara kepada semut, kuda, burung dan sebagainya.



Pada suatu ketika, rombongan Raja Sulaiman sedang berkonvoi melewati sebuah hutan. Bunyi kaki pasukan Sulaiman terdengar jelas oleh keluarga semut. Ketua semut pun mengajak semua anggota semut untuk menghampiri Sulaiman. Dengan penuh rendah hati, ketua semut pun menghampiri Raja terkaya tersebut. Melihat rombongan semut membuat Sulaiman bertanya-tanya. Ada apakah wahai semut? ucap Sulaiman. Semut pun menjawab sambil menyerahkan sebutir gula pasir, "Ini persembahan dari kami wahai Raja Sulaiman". Nabi Sulaiman pun tersenyum sambil menerima pemberian dari semut tersebut.

Keharmonisan antara semut dan manusia sudah terjalin sangat lama, dan itu sudah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman. Ada sebuah larangan dari agama Zoroaster yang patut dicontoh. Bagi agama mereka adalah sebuah larangan untuk membunuh hewan tanpa ada alasan, atau membunuh hewan secara iseng dan tak bermanfaat. Apa jadinya di bumi ini jika tidak ada binatang? kesepian bukan? Maka dari itu, hormatilah binatang, jadikanlah mereka teman. Karena kita hidup selalu berdampingan dengan mereka.

Egi Azwul,

Tasikmalaya 2019 
























Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja