HTI DI UJUNG TANDUK


Lukisan Karya Novan Gharuk

Pemerintah seharusnya melakukan proses deideologisasi untuk membubarkan HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia. Sedangkan yang dilakukan pemerintah sejauh ini hanya menjadikan HTI sebagai ormas terlarang. Apakah itu akan menyelesaikan masalah? Tentu tidak. Sebagai perumpamaan, jika kita menebang pohon dari atas, tentu masih ada kesempatan pohon itu tetap tumbuh dan berbuah. Jika tujuan pemerintah adalah untuk mematikan pohon tersebut  maka cabutlah dan hancurkan sampai ke akar-akarnya.

Dengan menjadikan HTI sebagai Ormas terlarang dan tidak diakui keberadaannya, sama halnya dengan mengadu domba masyarakat. Kenapa? Karena mereka sangat militan dan membaur bersama masyarakat. Sehingga kita tidak bisa membedakan mana HTI dan mana masyarakat awam. Dengan simbol kalimat tauhid yang disematkan dalam bendera mereka, tentu menjadi strategi untuk mengecoh kaum islam awam di Indonesia.
Dalam proses putusan HTI sebagai ormas terlarang, tentu ada peran Nahdlatul Ulama di belakangnya. Maka jangan salah, HTI punya dendam kesumat terhadap NU. Sehingga kejadian pembakaran bendera oleh sebagian kawan Banser menjadi celah untuk menyerang balik terhadap NU itu sendiri. 

Karena HTI sangat militan, tentu sudah biasa dengan Agitasi dan Propaganda, akhirnya mereka pun memanfaatkan isu pembakaran bendera yang dikaitkan dengan penistaan terhadap kalimat tauhid. Isu yang diangkat ini bukan hanya akan menyulut semua simpatisan HTI, tetapi juga akan menyulut agama Islam kebanyakan. Karena Islam kebanyakan ini tidak tahu mana simbol HTI dan mana kalimat tauhid. Menurut hemat saya, justru ini tindakan blunder dari Banser dan NU, yang hanya akan menjadikan mereka bulan-bulanan sebagai pelaku penista agama.

Di lain sisi, Kasus Banser melawan HTI ini juga akan menentukan kecenderungan pendukung capres Jokowi dan Prabowo. Pihak yang mendukung bendera tauhid adalah pendukung Prabowo, dan pihak yang menolak adalah pendukung Jokowi.
Padahal tidak sesederhana itu. Pihak Prabowo sendiri sebetulnya tidak menghendaki penggantian sistem pemerintahan menjadi khilafah. Bagaimana pun jiwa korsa Prabowo tentu masih melekat dan masih NKRI. Apalagi pihak Jokowi, tentu akan sangat menolak dengan takhayul Khilafah ini. Namun, demi kekuasaan yang diinginkan, tentu Prabowo sangat diuntungkan untuk menggaet suara dari minoritas yang menjadi mayoritas ini.

Lantas, bagaimana sebetulnya  cara yang bijaksana untuk membubarkan HTI dan memberangus fahamnya?
Mari kita belajar kepada Pemerintah Mesir dalam melakukan deideologisasi terhadap IM  (Ikhwanul Muslimin). Prosesnya cukup elegan dan terstruktur, diantaranya :
A. Akademik
B. Ulama
C. Militer

Akademik
Deideologisasi melalui akademik di sini adalah dengan penulisan karya-karya ilmiah yang ditulis oleh syeikh atau guru besar di Al Azhar, Kairo. Karya tulis yang membahas tentang bahaya Ikhwanul Muslimin ini diterbitkan secara tersembunyi. Karya tulis ini dibagikan kepada mahasiswa mancanegara, kemudian karya tulis pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sehingga, ketika pihak Al Azhar ada kunjungan study ke negara lain, maka karya tulis pun dibagikan secara cuma-cuma.
Isi karya tulis itu pun membahas bagaimana lemahnya Ikhwanul Muslimin dalam tataran ideologi, pengambilan hadist dan dalil-dalil lainnya. Selain itu, perujukan keilmuan Hasan Al Bana pun dipertanyakan. Sebagai simbol perjuangan IM, Para guru besar di Al Azhar menulis kelemahan-kelemahan dari filsafat Hasan Al Bana ini.

Ulama
Ulama di Mesir tentu mengusung Islam yang moderat. Strategi untuk mengcounter faham IM tidaklah mudah, para ulama ini melakukan debat dengan simpatisan IM. Ketika simpatisan IM kalah debat, maka langsung dipenjarakan.

Militer
Politik apapun tentu akan menggunakan militerisma. Demo besar-besaran hanya bisa dihadang oleh militer bersama mahasiswa yang pro terhadap pemerintah. Mahasiswa simpatisan IM ketika berdemi tentu akan berhadapan langsung dengan mahasiswa non IM beserta militernya.
Kesimpulan pertama pendapat saya, pemerintah terlalu tergesa-gesa dalam membubarkan HTI, sehingga tidak terhitung bagaimana implikasinya. Implikasi yang terjadi hanya akan menambah simpati kepada HTI itu sendiri. Meski saya anti Khilafah, tetapi memandang pemerintah beserta cendekiawan Islam belum mampu melawan faham Hizbut Tahrir Indonesia.
Sekian, Terima kasih.

Ditulis oleh
Egi Azwul Fikri

Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja