Diskusi dan Pemutaran Film Karatagan Ciremai


“Sebenarnya apa tugas Negara ?” Seorang mahasiswa jurusan Sosiologi Agama bertanya pada pembicara diskusi seusai pemutaran Film Karatagan Ciremai 8 Maret 2016 lalu di Teaterikal Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Film Karatagan Ciremai bercerita tentang Anih Kurniasih (15 tahun), gadis Sunda dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orangtua kandungnya. Pernikahan orangtuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-adiknya tidak memiliki akte kelahiran. Padahal, tanpa akte kelahiran, sulit untuk Anih mendapatkan administrasi kependudukan lainnya. Mungkin tidak mudah untuk menjawab ini, tetapi sutradara film menjawab dengan tenang. “Sekarang ini agama sudah menjadi alat politik. Sebenarnya, harapanku lebih jauh ke depan justru mengembalikan agama pada ruang moral privasi, sehingga klaim agama minoritas dan mayoritas tidak terjadi di negeri ini,” jelas Ady.
Menurut Ady, yang dilakukan Negara saat ini dengan hanya mengakui enam agama, sementara tokoh Anih dalam film ini menganut agama Sunda Wiwitan, secara perlahan menghilangkan hak Anih, “Ia disebut mempunyai agama jelas, kadang diislamkan, kadang dikatholikan, dan terkadang dikonghucukan,” imbuh Ady. 
Film yang diproduksi selama 1,5 bulan di Kuningan Jawa Barat ini adalah bagian dari Omnibus Kembang 6 Rupa. Kembang 6 Rupa adalah 6 film dokumenter karya kolaboratif antara 6 (enam) sutradara, 6 remaja perempuan di komunitas Sekolah Remaja (SR). Film ini menyorot satu isu diskriminasi administrasi yang tengah dihadapi Anih dan diceritakan sesuai dengan cara pandang subyek terhadap masalahnya tersebut, bekerja sama dengan sutradara.
 Sesi diskusi dibuka setelah pemutaran berlangsung bersama penonton yang mayoritas adalah mahasiswa. “Apakah Sunda Wiwitan itu agama atau kepercayaan ? Jika benar dikatakan agama, lantas mana kitab sucinya dan siapa nabinya ?” tanya seorang penonton. Pertanyaan dijawab oleh Munawar Ahmad, dosen Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga yang siang kemarin menjadi salah satu pembicara. “Claim truth atau sebuah klaim kebenaran tidak akan pernah berhenti. Sebenarnya Sunda Wiwitan merupakan ajaran yang dibawa oleh Pangeran Madrais, dan itu terjadi ketika Belanda merasa terancam akan kelangsungan politiknya ketika ingin menguasai perkebunan di daerah Cigugur,” jelasnya. “Mereka punya pemimpin, punya kitab dan sudah hadir jauh sebelum 6 agama hadir di Indonesia.”
Dalam paparannya, Munawar juga menjelaskan bahwa sebenarnya Sunda Wiwitan yang berada di Kuningan tidak jauh beda dengan Kanekes di Baduy  atau  Kampung Naga Tasikmalaya. “Mereka mempunyai hal menarik dibanding kehidupan kita pada umumnya, semisal dalam adat mereka selalu mempunyai lumbung padi, sehingga persediaan makanan selalu tercukupi,” imbuh Munawar kemudian.
            Menurut Rachma Safitri, Direktur Yayasan Kampung Halaman produser eksekutif film ini menjelaskan bahwa film ini ingin menghadirkan perspektif remaja menyoal tantangan mobilitas yang dihadapi. “Pemutaran dan diskusi film ini bertepatan dengan Internatonal Women`s Day, sehingga seorang remaja perempuan dalam hal ini Anih bisa bercerita cara pandangnya tentang toleransi dan bagaimana hal ini bisa dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat.” Fitri juga bercerita tentang respon baik dari penonton muda saat film ini diputarkan di Kuningan.
            Pemutaran film Karatagan Ciremai dihadiri mahasiswa dan mahasiswi UIN, mahasiswa Kalimantan dan mahasiswa Jawa Barat. Saking antusiasnya peserta diskusi, pemutaran dilakukan sebanyak dua kali. Beberapa mahasiswa yang terlambat datang hadir dan aktif mengikuti diskusi. Acara ini juga mendapat dukungan dari LPM Arena, Kopi Gandroeng dan beberapa perwakilan organisasi seperti LBH.
            Sebagai pembuka acara, panitia dari JR Youthcoop beserta HMJ Sejarah Kebudayaan Islam sepakat untuk menampilkan tarian tradisional oleh Rayon Civil Community (RCC). Tarian yang tak berjudul ini menunjukan semangat wanita dengan gerakan kaki yang rancak, penuh energi dan dengan akrobatik. Tepuk tangan meriah ditujukan kepada para 10 penari berkostum tradisional dengan paduan hijab, sesuai dengan nilai integrasi-interkoneksi UIN Sunan Kalijaga.
            Gagasan dan kesimpulan dari pemutaran film dan diskusi ini sebenarnya adalah bagaimana kita menyadari, bahwa di sekitar kita masih ada remaja perempuan yang didiskrimanasi, sehingga hak kewarganegaraan, hak hidup dan hak beragamanya seolah dicabut. Maka, tema besar yang digagas adalah Akar Yang Tercerabut. “Indonesia itu seperti teori Candy`s Bowl,” ucap Pak Munawar diakhir diskusi. “Politik Kerukunan Umat Beragama itu seperti wadah permen, rasa dan rupa boleh berbeda dalam satu mangkuk yang sama,” jelasnya kemudia. Kondisi ini berupaya untuk menjamin lahirnya lembaga yudisial yang adil dalam menyelesaikan konflik agama, serta menciptakan ruang kondusif bagi tumbuhnya potensi-potensi positif dari masyarakat dalam mengelola keharmonisan hidupnya. Teori wadah permen ini setidaknya menjadi dorongan untuk pemerintah dalam memfasilitasi tatanan sosial dan antropologi, namun bukan ranah teologinya.         

Egi Azwul, Kamis 10 Maret 2016




Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja