KEMAJUAN ADALAH KEMUNDURAN ?
![]() |
| Polutan Visual dan Polutan Sampah |
Jembatan merupakan awal peradaban yang membuka ke arah yang lebih cerah. Setelah sekian lama terisolasi dan hanya terpaku pada satu akses, kampung Sukarame dulunya adalah daerah terpencil yang berada di garis perbatasan antara kecamatan Karangnunggal dengan Cikatomas, dan garis perbatasan itu berupa sungai memanjang yang membelah kabupaten Tasikmalaya yaitu sungai Ciwulan. Setelah adanya jembatan yang membentang di atas sungai Ciwulan itu, maka kampung Sukarame seolah menemukan dunia baru, masa kegemilangan dan keemasan, karena bisa menggunakan dua akses yang lebih terbuka, arah barat ke Karangnunggal sedangkan ke timur arah ke Cikatomas.
Sebelum adanya jembatan, dilihat dari segi ekonomi dan kehidupan masyarakatnya hanya bergantung pada pertanian, menjadi pegawai negeri dan sisanya pergi ke perantauan. Begitu juga dengan lembaga pendidikan yang sangat terbatas menyebabkan anak desa banyak yang putus sekolah lanjutan, Sltp atau Slta, meski sebagian kecil tetap memaksakan sekolah dengan jarak yang sangat jauh, yaitu bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam atau dengan menggunakan rakit menyebrang ke arah timur. Infrastruktur jalan pun sangat memprihatinkan, dulunya jalan Sukarame hanya tumpukkan batu koral tajam dan tanah yang berdebu, sehingga orang lebih memilih berjalan kaki daripada harus naik kendaraan. Ternyata ramah lingkungan.
Ketika jembatan mulai dibangun, setidaknya masyarakat punya harapan lebih pada akses baru di seberang sana, yaitu kecamatan Cikatomas yang sangat strategis karena jaraknya lebih dekat. Keunggulan kecamatan Cikatomas diakui memiliki kelebihan dalam segala bidang, baik ekonomi, pendidikan, transportasi dan interaksi yang lebih luas. Memang perlu adaptasi luar biasa ketika jalan mulai diaspal dan jembatan sudah bertengger. Masyarakat Sukarame menyambut kemajuan ini dengan berbagai pandangan. Beberapa di antaranya menilai bahwa dengan adanya jembatan merupakan awal kemunduran akan kearifan lokal. Sisanya lagi beranggapan justru ini adalah kemajuan luar biasa karena bisa bereksplorasi ke dunia luar. Bukankah itu yang diharapkan selama ini ?
Terlepas dari kedua pandangan itu, kini masyarakat Sukarame bisa dikatakan makmur, dilihat dari segi ekonominya yang stabil, perlahan orang-orang ramai membangun konveksi, home industri, rumah-rumah mewah berdiri, mobil berserakan, menghasilkan banyak sarjana dari berbagai profesi dan ada beberapa orang yang duduk di pemerintahan.
Jika dilihat kilas balik, memang ada beberapa kemunduran yang disayangkan dalam hal tradisi turun temurun. Kebiasaan-kebiasaan lama kini mulai luntur, misal dalam gotong-royong, kini masyarakat banyak yang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri, sudah jarang bahkan tidak ada budaya ronda, bersih-bersih kampung dan lain-lain. Pandangan orang-orang tentang kesuksesan pun ditakar dengan kepemilikan harta yang berlimpah.
Jika memang dengan adanya jembatan merupakan kemajuan yang dicita-citakan bersama, akan lebih bijak jika budaya leluhur tetap dilaksanakan.

Comments
Post a Comment