 |
| Foto oleh Sambas |
Riung karya merupakan kegelisahan yang dibicarakan sangat intim oleh beberapa orang mahasiswa Tasikmalaya di sebuah warung kopi di Yogyakarta. Riung karya pada awalnya memang konsep sederhana untuk wadah apresiasi pecinta sastra maupun fotografi. Dipandang perlu adanya kantong kesenian yang independen tanpa ada intervensi dari keriuhan televisi ataupun kantong-kantong kesenian latah yang sangat mainstream dan pengotak-kotakkan siapa yang lebih pantas dikatakan seniman, maka kami sangat resah dengan keadaan ini. Kebetulan waktu itu ada M Ikhsan Fajari, Soegi, Kucluk, Sambas, Jambrong, dan saya sendiri, kemudian tidak lama datanglah Feri yang sebelumnya kami paksa untuk mencecap kopi cangkir Grisse.
Pada awalnya keisengan membicarakan tentang Riung karya disebabkan oleh momentum Ramadhan yang sudah mainstream selalu ada acara buka bersama. Kami mendiskusikan bagaimana caranya agar acara buka bersama itu dikemas lebih manis, lebih menarik, maka muncullah percikan sebagai pemantik untuk memikirkan lebih jauh bagaimana konsep buka bersama bisa lebih berwarna dan berkesan. Maka muncullah nama "Riung Karya" yang diajukan, setelah uji leksikal dari kedua kata tersebut, maka kata Riung merupakan kosakata dari bahasa Sunda yang berarti berkumpul. Sedangkan Karya adalah hasil penciptaan original secara empiris oleh si subjek pengkaryaan.
Entah kenapa, semakin lama kami semakin serius meracik acara ini, ide menambahkan pameran lukisan pun tercetus, pembukaan stand ekonomi kreatif dan begitu pula dengan live music, sehingga dalam waktu lima jam kami sudah bentuk tema acara, kepanitiaan dan kesiapan lainnya. Sungguh ngopi yang berkualitas ! Memang perlu diskusi yang cukup panjang untuk memikirkan bagaimana dan berapa estimasi dana yang diperlukan supaya berlangsungnya acara Riung Karya ini. Akhirnya kami tunda diskusi perencanaan acara ini beberapa hari ke depan.
Hari berikutnya kami berdiskusi untuk melanjutkan pembahasan yang lebih mendalam mengenai acara ini, orang yang datang kali ini bertambah, ada Aming dan temannya, Odong personil Bank Muamalat, Hevy Senang Ruswandi dan Aang. Semakin banyak kepala, maka semakin banyak pula gagasan beserta masukan, Riung Karya ini bertambah matang. Setelah panjang lebar, kami memutuskan waktu untuk berlangsungnya acara ini, yaitu hari Selasa 14/7/2015 pada jam 15:00 WIB-Selesai. Kami masih kebingungan mengenai tempat pelaksanaan acara ini, maka dengan segera aku menghubungi kawan dekatku di Bandung, dialah Muhammad Rizal Badrusalam. Dia menyarankan untuk menghubungi Ilham, katanya, mudah-mudahan sanggar seni Mandalasura bisa menyediakan tempat. Maka malam itu juga kami menghubungi Ilham, setelah menjelaskan bagaimana gambaran umum dari acara itu, Ilham dengan sumringah menyambut dengan positif. Katanya, dia akan menghubungi Anzil selaku pemilik sanggar Mandalasura. Tidak lama, setelah itu Ilham dan Anzil pun menyetujui Sanggar Mandalasura menjadi tempat berlangsungnya Riung Karya, tepatnya di Cikiray, Singaparna, Tasikmalaya.
Malam itu juga, Jambrong dan Soegi menggarap poster, karena deadline acara begitu sangat dekat, aku pressure kawan-kawan untuk mempersiapkan dengan matang mengenai materi pameran kecil-kecilan ini. Kami mengundang kawan-kawan kumpulan mahasiswa IMT Bandung, Himalaya Jakarta dan Forsassy, dan kami mengajukan press release ke beberapa media. Adapun mengenai persiapan dana, kami sepakat untuk meminta bantuan para alumni KPMT-Y.

Tidak terasa deadline sudah semakin dekat, sementara persiapan masih menggantung, ada beberapa hal yang membingungkan bagi kami, begitu juga dengan pemilik sanggar yaitu Anzil, karena posisi kami masih di Yogyakarta, maka dengan segera kami mudik bareng menuju Tasikmalaya. Setelah sampai di Tasikmalaya, tepatnya di Cikiray, Singaparna, kami sangat terpesona dengan sanggar Mandalasura. Sebuah saung, atau bisa juga dikatakan dengan bale atau pondok, namun dengan arsitektur luar biasa tempat ini didesain dengan sangat apik, sebagian besar saung ini terbuat dari bambu. Bangunan ini mungkin karya masterpiece dari penciptanya, ketika menyaksikannya seolah-seolah kami dibawa ke peradaban yang sangat lampau, entah Kampung Naga atau Baduy, bangunan yang sangat unik dan luar biasa. Saya yakin, ada beberapa filosofis dari bangunan ini, tapi saya hanya tersenyum dan merasa bangga dengan hal sederhana tetapi megah seperti saung Mandalasura ini.
 |
| Saung Mandalasura |
Kami beserta teman-teman langsung mendesain tempat supaya terlihat manis, kami membuat panggung sederhana dengan ornamen-ornamen dari kardus, kemudian untuk display karya kami juga persiapkan terpisah, untuk ekonomi kreatif kami hanya menyediakan stand seadaanya. Maka dengan Bismillah, acara ini dimulai dengan sangat khidmat.
Mungkin ini beberapa dokumentasi foto menceritakan acara Riung Karya, kami ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang mendukung acara ini. Semoga acara riung karya bisa menjadi benih unggul untuk merangsang anak muda untuk selalu berkreasi.
 |
| Teh Paradisa, Ibu MC Riung Karya |
 |
| Entrepreneur muda, paling kanan Miing, Purba, Robet dan Uduy. |
 |
| Ketua KPMT-Y Demisioner dan Ketua KPMT-Y 2012-2015 |
 |
| Pelukis kita, Lista Kucluk |
 |
| Keroncong Wirahma |
 |
| Ilham Trihadi, Seorang aktor berprestasi sedang membacakan puisi |
 |
| Penyair ternama, dia seorang Romli Burhani |
 |
| Musisi serba bisa, Anzil Hidayat sedang memainkan gitar dan harmonika |
 |
| Kang Ikhsan, kang Alwi dan temannya |
 |
| Fotografer muda, Jambrong |
 |
| Hevy Senang Ruswandi, Ketua panitia sedang meberikan petuah yang tidak bermanfaat :D |
 |
| Pelukis Handal, Fahluth Rainbow |
 |
| Musisi sayap kiri, Feri Taupik |
 |
| Sakiit, sakiit, sakitnya tuh di sini, cover by Wirahma |
 |
| Diskusi Kebudayaan, Ikhsan, Alwi dan Harpat |
 |
| Santunan Kepada Anak Yatim |
 |
| Anak-anak kecil sedang asyik bermain |
 |
| Ada tokoh agama sedang memakai topi, dan yang berkacamata adalah "Marx" muda Muhammad Rizal |
 |
| Teman-teman mandalasura |
Comments
Post a Comment