SENI DAN BUDAYA DALAM PERGERAKAN [1]


Apa itu seni ? Apa itu Budaya ? Apa itu pergerakan ?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah kita jawab tanpa memakai kajian filsafat. Karena dari terma masing-masing, memiliki kesukaran dalam menerjemahkannya tanpa melihat dari keutuhan. Ada ungkapan latin tentang seni, “Ars longa vita brevis” bahwa seni itu abadi dan kehidupan itu singkat. Secara transenden, seni itu adalah setetes keindahan yang diwariskan oleh Tuhan. Namun, untuk tolok ukur keindahan sendiri ada ilmunya, yaitu estetika. Namun kata orang Lekra, seni tidak untuk seni, karena seni untuk seni namanya onani.
Kaitannya dengan pergerakan yang dilakukan mahasiswa menggunakan seni, setidaknya ada empat macam seni yang harus dikuasai. Secara hegemoni keempat macam seni ini tidak hanya transfer of beauty, tetapi juga transfer of value. Keempatnya adalah Seni Musik, Sastra, Pertunjukan (Perform Art) dan Seni Rupa.

Budaya adalah cipta rasa dan karya. Budaya yang digunakan dalam pergerakan adalah budaya masa, budaya non masa, dan kearifan lokal. Budaya masa yang dimaksud adalah budaya yang diciptakan kemudian menjadi trend untuk para aktivis, semisal rambut gondrong, celana bolong. Budaya non masa adalah budaya individual yang diaplikasikan dalam hidup bermasyarkat, misalnya seorang mahasiswa sedang ngopi di warung dan menyaksikan televisi, kemudian di tengah orang banyak dia berkomentar logis daam menanggapi persoalan yang terjadi dalam televisi.

Pergerakan adalah kesadaran kritis menghadapi fenomena yang dianggap tidak sesuai dengan nilai. Atau pergerakan adalah sesuatu yang tidak diam. Atau dengan diam juga sebenarnya bergerak. Pergerakan mahasiswa atau angkatan muda banyak melakukan revolusi, sejak zaman pra kemerdekaan sampai sekarang.

Empat aturan Realisme Sosialis Soviet, (1) Proletarian, yaitu kesenian yang relevan terhadap kelas pekerja dan dapat dimengerti oleh mereka. (2) Tipikal, yaitu gambaran adegan-adegan kehidupan rakyat sehari-hari (3) Realistis (4) Partisan, yaitu mendukung maksud dan tujuan Negara atau partai.

Pergerakan setelah reformasi kemudian dibandingkan dengan pergerakan sekarang. Pergerakan reformasi lebih ideologis dan intelektual. Pergerakan sekarang hanya flower generation, generasi bunga yang hanya melanjutkan senior-senior terdahulu, perlu diadakan renaissance jilid dua.




[1] Egi Azwul Fikri, Tulisan ini disampaikan dalam acara “Seni dan Budaya dalam Pergerakan”
                                                                                                                                             

Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja