Pendidikan Karakter Menggunakan Sufisme Modern
Peradaban modern akhir-akhir ini membawa manusia pada tingkat hedonisme dan konsumerisme akut. Manusia hilang jati dirinya karena menuhankan kebendaan. Materialisme sebuah pandangan yang menekankan manusia untuk bersikap rasionalisme, positivisme, pragmatisme dan empirisme, hingga memaksa manusia untuk mengutamakan tingkat objektifitas dan kognisinya. Begitu pula sejalan dengan modernisme yang dibarengi dengan kemajuan teknologi, menyebabkan manusia belum siap memahami tugas kosmik, maka mengakibatkan tergerusnya nilai-nilai budaya yang sudah melekat dalam pribadi seseorang dan masyarakat.
Dampak psikologis dari modern bisa dilihat dari
banyaknya peserta didik yang frustasi, gampang marah, berkelahi, kerenggangan
komunikasi dan interaksi, serta berbagai penyimpangan-penyimpangan lainnya. Ini
dikarenakan modernisasi menyerang manusia-manusia muda yang belum matang
psikisnya serta belum siap membendung dan menyikapi modern dengan bijaksana.
Merambah ke dalam dunia pendidikan dan pengajaran,
modernisasi menggerus system pendidikan dengan dipengaruhinya oleh mindless, terlalu banyaknya jawaban
sementara kurangnya pertanyaan-pertayaan, kemudian politik yang menyebabkan
pendidik dan peserta didik menjadi korban kurikulum, metodologi-metodologi
pendidikan yang semakin diinovasi dan dikembangkan. Namun, di sisi yang lain
manusia metafisis sebagai Khalifah dalam
pentas jagat raya ini terabaikan.
Teknologi bersifat bebas nilai (netral), maka perlu
adanya kajian aksiologis yang mendalam, lebih tepatnya kajian etika seperti apa
yang dipakai untuk memberikan solusi. Werner Von Braun berkata “ Jika ukuran
etik dunia gagal berkembang seiring dengan kemajuan revolusi teknologi, maka
kita akan binasa”.
Azyumardi azra pernah mengatakan bahwa pendidik
bukan hanya sebatas transfer of knowledges, tetapi juga transfer of values.
Transfer of values yang dimaksudkan di sini adalah transfer nilai, baik
bersifat nilai agama, budaya dan kebangsaan. Oleh karena itu, sangat diperlukan
peran pendidik dalam menghadapi era modern ini, sebagai otoritas dan
fasilitator dalam menerjemahkan dan menyikapi kerasnya hidup.
Jika tujuan pendidikan adalah untuk character building, maka sepatutnya
pendidikan ahlak dan tasawuf diseimbangkan dengan mata pelajaran lainnya,
bahkan lebih diprioritaskan. Karena kemerosotan-kemerosotan nilai yang terjadi
pada dewasa ini sungguh memprihatinkan. Oleh karena itulah neo-sufisme unjuk gigi untuk menjawab kegelisahan-kegelisahan tersebut. Dengan mencoba tetap Zuhud, namun tetap berbaur dengan masyarakat, berinteraksi sosial dan berkomunikasi secara layak. Neo-sufisme mengajarkan tetap sederhana, memaknai benda hanyalah benda, karena yang berhak disembah hanyalah immateri.

Comments
Post a Comment