Ah, siapa sih Chairil Anwar ?

Sekitar tahun 2005 Masehi, waktu itu saya masih kelas 3 SMP (Sekolah Madrasah Pertama). Saya menemukan sebuah buku kumal yang dicuri oleh kawanku dari perpustakaan dan buku itu berjudul "AKU". Ini pertama kalinya saya diperkenalkan pada seorang tokoh yang sangat berpengaruh pada zamannya, tokoh ini diceritakan sangat baik dalam bentuk skenario film, pembuat skenario ini adalah Sjuman Djaya. Dia sangat apik dan rapih dalam menceritakan "sang" tokoh, seolah-olah tulisan Sjuman Djaya menggambarkannya dengan visual 3D, karakter tokoh dan kehidupan pada saat itu tergambar sangat jelas dalam pikiran kita.
Ketika masuk dalam penggambaran tokoh, saya merasa antusias dan merasa ingin tahu lebih lanjut mengenai siapa dan apa sebenarnya yang akan terjadi dengan orang ini. Seseorang yang hidup pada zaman pra-kemerdekaan, kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan, dia lah seorang penyair yang mengajak keluar dari goa berlumut hitam untuk melihat dunia lepas dan terang benderang, dialah yang menyatukan kutub-kutub bersebrangan dalam berbahasa, dialah Hegelian muda dengan cinta penuh dialektisnya, dialah orang yang membuat cemas para kritikus sastra, dialah orang populis tetapi tidak utopis, dialah nabi Adam ke-2 yang diajarkan Tuhan dalam mengajarkan kata-kata, dialah Chairil Anwar.

Setelah semakin lama membaca buku skenario  film itu, rasa ingin tahu saya terus tumbuh dan bertambah, dengan terpaksa saya lahap buku itu sampai habis dalam waktu sehari semalam. Entah kerasukan jin apa, ketika saya membacanya terkadang sambil tersenyum memikirkan sang Chairil muda yang energik dan sangat seniman dalam kelakuannya. Dia seolah-olah keluar dari semua norma, moral atau ahlak, mungkin hanya dia yang benar-benar merdeka melampaui semua nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat luas. Dalam buku itu diceritakan bahwa Chairil rakus terhadap perempuan, rakus terhadap buku, dan dia terus melawan pada penjajahan atas dirinya. Jika itu dinamakan keburukan, biarlah menjadi negasinya Derrida, atau negativitas Hegel, biarlah potensi kita yang menyelamatkan atas segala penyangkalan.

            Buku skenario yang melukiskan secara jelas kehidupan Chairil anwar adalah buku pertama yang saya baca sampai tuntas. Secara tidak langsung buku ini memberi gambaran dan transfer kesusastraan, atau juga memberi pengaruh pada pola pikir dan kejiwaan, bahkan, saya sering meniru poto Chairil ketika menghsiap rokok. Separah itukah saya ? Setelah itu saya semakin tertarik dengan Chairil anwar, saya bolak-balik ke toko buku mencari siapa sebenarnya penyair ini.   
            Beberapa buku tentang Chairil saya temukan, baik berisi kumpulan puisinya atau buku yang membahas tentang puisinya. Tidak banyak pertimbangan, buku-buku itu langsung saya angkut ke rumah. Sangat menkajubkan sekali ! Amazing ! Wah ! itulah kata-kata yang saya keluarkan ketika satu-persatu sajak Chairil anwar saya baca. Dari dulu sampai sekarang, semua puisi Chairil anwar adalah terfavorit, tidak ada kecacatan sedikit pun. Seolah dia menemukan kesempurnaan diksi, lugas dan berbeda dengan pujangga-pujangga baru dengan diksi yang romantis dan mendayu-dayu. Namun, diksi lugas Chairil malah membuat romantis, bahkan sering potongan-potongan sajaknya dijadikan kata-kata mutiara. Contohnya, Sekali berarti sudah itu mati, Hidup hanya menunda kekalahan, Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
            Ingin rasanya hidup di zaman itu, bisa bertemu dengan beliau, berdiskusi sambil menikmati kopi, atau berjoin tembakau dan bermain kata-kata. Tapi rasanya itu tidak mungkin, saya dan Chairil sudah berbeda dimensi, dia sudah tertidur tenang bersama karya-karyanya yang abadi, sedangkan saya hanya bisa memperingati haulnya tiap tanggal 28 april. Selamat jalan Chairil, saya adalah temanmu yang setia di masa depan, mau bagaimanapun dan siapa pun engkau, engkau adalah binatang jalang dalam diriku.


Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja