Riak Rindu Pada Ciwulan
Sungai adalah tempat transportasi
sejak jaman Tarumanagara, bahkan sungai dijadikan pusat perekonomian,
pembatasan kekuasan dan berbagai macam perjanjian dengan kerajaan lain, itu
dibuktikan dengan penemuan prasasti-prasasti pada abad ke- 3-4 M. Kerajaan-kerajaan
Sunda dahulu selalu berdekatan dengan sungai, mungkin ada kaitannya dengan
pengaruh hindu yang menjadikan sungai sebagai sesuatu yang sakral. Itu yang
pernah aku baca dari carita parahyangan dan naskah wangsakerta.
Sekarang pindah ke dimensi waktu lebih modern, meski aku merasakan saat itu belum modern. Aku ingat masa kecilku. Kira-kira begini :
Air sumur sudah mengering, karena musim kemarau sedang melanda. Inilah saatnya aku bersama kawan-kawanku menghabiskan banyak waktu di sungai, sungai Ciwulan namanya. Angin bertiup pelan membelai rambut pendekku. Aku menyaksikan batang air yang jernih, alirannya teramat lamban, ombak kecil jalin-menjalin sampai ke tepian. Di kedua sisinya berderet pohon bambu dan alang-alang. Batu kali hitam nan berlumut, atau kerikil yang terhampar karena kemarau menyurutkan air sungai.
Ibu-ibu berjalan pelan membawa tumpukan cucian dalam ikatan sarung, bapak-bapak membawa jeriken kosong yang nantinya akan diisi air. Sedangkan kami anak-anak kecil telanjang kaki berlarian menuju aliran sungai. Aku, Cepot dan Parid. Sungguh menggoda sekali, hamparan air itu ibarat surga yang telah lama sirna atau disembunyikan oleh cerita nenek moyang, bahwa sungai ini terdapat banyak dedemit dan siluman. Namun, saat kemarau tiba sungai ini seolah-olah hilang keangkerannya, ibarat harimau yang kehilangan taring.
Hal-hal berbau mistis dan magis seringkali kami dengar cerita dari
orang tua, siluman-siluman itu ada yang bernama bulu carang dan leled
samak. Dan wujud keduanya ini belum sempat penulis temukan secara empirik.
Ada juga beberapa pantangan, di antaranya jangan memukul-mukulkan cucian ke
batu kali dan jangan mengucapkan kata “Buaya”, karena buaya jadi-jadian akan
menghampiri lalu mengambil nyawa tanpa segan. Sampai saat ini kami memegang dan
mempercayai nilai-nilai itu. Terlepas dari mitologi nenek moyang, namun sisi
baiknya banyak kami rasakan, setidaknya dengan keangkeran seperti disebutkan
diatas dapat menjadi motivasi bagi orang-orang untuk menjaga dan melestarikan
kejernihan air sungai Ciwulan.
Aku bersama kawanku paling suka naik rakit, meski rakitnya milik orang lain, terkadang dengan sembunyi-sembunyi kami mengambil rakit untuk kami tumpangi, kami pinjam dan nanti juga akan dikembalikan. Sembari tertawa dan semangat kami mendayung ke hulu, namun rasanya tak pernah menemukan hulu. Setelah merasa jauh mendayung, kami memutar balik ke tempat ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian. Alangkah senangnya kami menjadi nahkoda kecil, meski bukan lautan yang ditaklukan, hanya sebatas sungai, tetapi kebahagian bisa didapat dengan sesederhana itu. Duh rindu suasananya.
Pernah suatu ketika, sebelum musim kemarau tiba, beberapa bulan yang lalu, waktu itu, tentunya musim hujan membuat aliran sungai meluap. Kami bertiga nekad membawa rakit untuk melawan arus, kami mendayung sekuat tenaga. Memang kami sampai ke tempat yang tidak tahu namanya. Setelah memutuskan untuk pulang dan hendak mengikat rakitnya, ternyata arus sungai semakin meluap, Cepot berusaha mengikat rakitnya ke pohon kelapa, namun tak disangka rakitnya terlepas karena talinya terputus lalu hanyut terbawa arus sungai. Kami bertiga saling memandang, menyimpan ketakutan akan diketahui oleh pemilik rakit tersebut. Cepot mengajak kami untuk bergegas meninggalkan Ciwulan. Dalam hati kami sangat merasa bersalah, ingin rasanya menggantinya dengan rakit yang baru, namun apa daya karena sampai sekarang kami tidak tahu pemiliknya.
Oh iya, dan sekarang airnya sedang jernih sehingga kelihatan ikan-ikan kecil berlarian, berkejaran. Aku juga sering memancing dan menebar jala. Ikan yang didapat ada yang besar ada juga yang kecil, nama ikannya ikan hampal. Entah apa bahasa indonesianya, pokoknya sejenis ikan mas, namun ikan itu sering jadi incaran para pemancing. Selain rasanya enak untuk dimakan, tetapi ada kebanggan tersendiri ketika berhasil menangkapnya.
Begitulah beberapa bagian penting masa kecilku, rasanya ingin mengulangi dan terus mengulangi sampai aku merasa puas berenang di Ciwulan bersama kawan-kawanku. Ini semacam romantisme masa lalu, kerinduan yang mendalam dari seseorang yang sudah lama tak mengunjungi tanah leluhurku. Ingin aku angkat menjadi bunga rampai berbentuk puisi, cerpen, novel atau film. Mudah-mudahan suatu saat bisa terwujud, tapi yang sekarang saya bisa adalah menulisnya di sini, semoga niat sekarang menjadi batu loncatan dalam berkarya selanjutnya. Terima kasih Cepot dan Ujang parid, masa kecilku sangat menarik.
Salam sayang dari
Jogja.
Comments
Post a Comment