Romantisme Lagu


Hari ini saya sedang menyeruput kopi robusta dari Toraja, dibawakan oleh temanku yang baru datang dari rumahnya. Uap yang mengepul di bibir gelas, pemantik candu akan aroma yang khas. Aku tidak akan membahas lebih jauh mengenai kecanduanku dengan kopi, dari beberapa arah mata angin terdengar sayup suara anak-anak menyanyikan lagu “Topi saya bundar”. Aku terperangah, sambil tersenyum mengenang romantisme masa lalu yang terulang.

Namun, di samping itu, zaman sekarang sudah serba digital, merambah pada composer yang ikut-ikutan mengarang lagu dengan nada-nada remix. Penggunaan alat musik juga tidak terlalu diutamakan, cukup dengan satu software, maka semua nada bisa diserap kemudian digabungkan. Begitu pula dengan judul lagu atau syairnya yang tidak senonoh, kini semua usia bisa menghafalnya ketika di kamar mandi. Tidak perlu disebutkan apa saja lagu-lagu tersebut, tetapi menurut pengamatan penulis, lagu-lagu itu tidak pantas untuk diperdengarkan pada anak-anak di bawah umur. Ada syair lagu yang bercerita begini, “Sudah tiga bulan, kuhamil duluan” dan selanjutnya. Aku pernah merinding ketika mendengar seorang anak kecil menyanyikan lagu tersebut dengan khusyu. Aku sangat benci, ingin marah, tapi kemarahanku seperti tak berefek apa-apa.

Mengapa aku terlalu apatis dengan perkembangan yang serba digital ini ? Mengapa aku skeptis dengan pembelajaran orang tua yang sebetulnya masih relevan ? Kenapa aku teramat inferior dengan budaya bangsa yang semakin diinjak-injak oleh opini segelintir orang ? Buktinya, aku masih bisa mendengarkan nyanyian anak-anak yang sama ketika kunyanyikan dulu di sekolah taman kanak-kanak. Kurang lebih begini syairnya, topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar, bukan topi saya.

Setidaknya, hari ini aku merasa lebih lega, kemarahanku dengan musik dan syair lagu yang tidak senonoh kini sudah terobati. Anak-anak yang menyanyikan lagu topi saya bundar sambil mempraktikkannya dengan manis, aku tersenyum simpul ketika mengenangnya, seolah-olah aku sendiri yang melakukannya. Aku menyimpan sedikit optimis, akan ada orang-orang jenius yang menciptakan lagu-lagu baru yang mendidik, yang memberikan unsur pendidikan, hingga membekas secara permanen dalam ingatan. Nyatanya lagu-lagu tersebut, yang diciptakan dengan ketulusan akan melekat sampai sekarang,. Mari kita berkarya, meneruskan jejak pencipta dan composer lagu yang mencerdaskan anak-anak, tanpa mengenyampingkan etika, tanpa mengenyampingkan budaya.

11 February 2015

  




Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja