Aku Terhibur Dengan Kesenduan
Ini
menit-menit terakhir, aku harus menelan keputusan yang sangat berat. Tak terasa
dengan angka umurku, ya umurku sudah seperempat abad. Umur yang tepat
menancapkan kegairahan dalam hidup, aku harus menikmatinya. Beberapa penyesalan
terkadang sering datang. Kesedihan-kesedihan selalu ada, dan aku sering
merawatnya.
Manusia
memerlukan kesedihan, itu diantara kebutuhan primer dalam jiwa manusia, selain
bahagia, manusia sangat memerlukan kesedihan. Kesedihan memang tidak perlu
dieksploitasi, justru kesedihan itu sendiri yang mengeksploitasi. Manusia
selalu dibayang-bayangi dengan penyesalan hidup, kehampaan diri, kosong. Ya,
tahun ini ibarat wajan besar yang menampung kesemuanya itu.
Pernah
ada yang bilang, aku sudah terhibur dengan kesepian. Sangat puitis, ada
tragisme mendalam dengan kalimat itu. Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Aku
memang mudah terhibur, berusaha untuk menghibur diri tetapi itu paradoks, dan
ternyata ada yang lebih menghibur yaitu kesedihan. Kesedihan-kesedihan itu
tidak aku pandang sebagai sesuatu yang buruk, tetapi aku lebih menghargai
betapa rencana-rencana manusia selalu berbenturan dengan rencana Tuhan. Sekuat
apapun aku menarik tambang, jika beban yang kutarik lebih berat dari tenagaku,
maka aku sudah terpental dan terhempas pada beban itu.
Pernah
aku berpikir, seandainya aku membuka warung dengan berbagai macam menu, misalnya
menu kesedihan, menu kesendirian, menu kekosongan, menu kesunyian, dan menu
kesenduan. Aku pikir, akan ada banyak orang yang membelinya, menikmatinya
bahkan menjadi pelanggan tetap. Tetapi sayang, aku tidak berani menjualnya, aku
sendiri masih memerlukan kesedihan.
2014
berlalu, antara kos, buku dan sunyi.
Comments
Post a Comment