Laron Sang Bikkhu

Laron menerbangkan sayapnya mencari matahari. Awal musim hujan seperti tetabuhan genderang untuk membuka arena menghancurkan diri, laron bermunculan keluar dari lubang kayu keropos atau tanah yang dipenuhi oleh humus. Aku berlari bersama teman-temanku lalu menangkapnya, kemudian kumasukan satu-persatu ke sebuah wadah dari plastik. Laron yang berterbangan seperti peluru yang keluar dari magasin. Itu dahulu, sebelum aku tahu bahwa laron tanpa ditangkap pun pasti akan mati.

Bahkan, ketika malam hari, laron terbang memutari terang lampu, orang tuaku sering mengisi air dalam belanga, lalu menyimpannya tepat di bawah lampu itu. Laron pun tertipu, mereka melihat pantulan cahaya lampu di air, ketika hinggap, mereka terjebak dalam belanga, sayap-sayapnya patah kemudian perlahan mati.

Aku mengingat itu sebagai filosofi harakiri atau sepuku, membiarkan diri mati karena harga diri, sementara laron bunuh diri hanya sebatas menemukan cahaya, sebuah keniscayaan untuk membuktikan bahwa diri benar-benar berani, bahwa akulah seorang jantan. Orang-orang hanya mengambil sisi pragmatisnya, manusia harus seperti laron, tugasnya mencari seberkas terang, uang atau jaringan, bahkan politik. Ya, jargon manusia harus seperti laron dalam mencari terang hanya kepicikan yang pragmatis, tanpa dirumuskan kembali, tanpa menelaah ulang apa itu kebijaksanaan diri.

Jika filosofi laron yang diambil, apa bedanya dengan merkantilisme, kapitalisme, mencari terang hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya, dengan kekuatan modal (emas atau komoditas lainnya). Tentu laron tidak akan setuju dengan sifat kebodohan manusia, mengambil intisari kebijaksanaan diri dengan menghancurkan orang lain. Laron tidak seperti itu, laron hidup tidak sampai sehari, dia mengorbankan sayap dan nyawanya bukan untuk kepentingan diri, tetapi untuk menemukan cahaya hidup, hanya dengan nyawa sebagai alat tukarnya. Mereka pun mati dalam kebahagiaan.

Kita ingat Soekarno, kita ingat Prabu Siliwangi, daripada Indonesia hancur, daripada Pajajaran hancur, mereka menghancurkan dirinya sendiri, tanpa memaksa orang lain untuk mengenangnya. Tetapi orang yang sudah mencapai kebijaksanaan diri, tentu akan tersenyum ketika melihat yang dilakukan oleh kedua pemimpin tersebut.



Yogyakarta, 24 Desember 2014

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja