Maaf Saya Pindah Keyakinan



 Sedikit bercerita tentang bagaimana kehidupan saya untuk sekarang ini. Jujur saja, saya memang seseorang yang tertarik pada segala hal di alam semesta ini, hal kecil pun selalu dipersoalkan, mungkin pendapatku saja bahwa tubuhku adalah titik paling penting dalam alam semesta, sehingga aku harus memperhatikan segala, meski pada kenyataannya aku selalu kalah untuk memahaminya, setidaknya aku masuk dalam peta kosmik. Beda halnya dengan pandangan Materialisme, sudut pandangku dari dunia ke dalam diri. Ya, esotorisme.
     Aku dulu pernah punya cita-cita yang sederhana, yaitu ingin mempunyai Band yang terkenal seperti Guns n Roses. Tetapi dengan berjalannya waktu, aku tahu itu hanya fase fuberitas yang terjadi akibat lingkungan sosial yang mempengaruhi sudut pandang ketenaran. Dunia Rock n Roll pada saat itu memang mendunia, bahkan sampai ke pelosok pun Axel selalu jadi panutan untuk berteriak dan berambut gondrong. Aku pernah terpengaruhi sampai aku tidak menemukan diriku, meski berkaca di hadapan cermin. Aku sempat kehilangan diriku akibat budaya Rock n Roll.
     Aku terlalu lama terjebak dalam dunia musik. Aku tidak pernah puas untuk belajar musik, bahkan sampai sekarang sesekali masih suka mendengarkan beberapa genre musik yang menurutku setuju dan merdu. Bagi saya musik adalah soundtrack dalam pewayangan alam semesta, atau mungkin latar paling berpengaruh untuk mengatur emosi manusia. Musik selalu kondisional dengan temperatur emosi saya khususnya. :)
Bukan hanya sebuah prestasi, hanya saja aku bangga dengan segala hal yang pernah aku lakukan, aku mendapatkan nilai penting dalam menghargai hidup, bahwasanya keindahan itu tidak hanya dinikmati dengan melihatnya, tetapi memaknai keindahan juga didengar dan dirasakan sampai ke hati yang paling dalam.
     Selanjutnya dengan pergeseran waktu, aku mulai bosan ketika harus memainkan gitar. Aku beralih memainkan Biola Alto. Ini ketertarikaku yang selanjutnya, dan aku tidak bisa menolaknya seolah aku jatuh cinta pada pandangan pertama, pokoknya harus bisa. Mau bagaimana pun dengan ilmu orang akan mendapatkan yang ia inginkan, aku percaya pada hal itu. Akhirnya untuk sementara aku berhenti bermain gitar dan beralih ke Biola. Dengan santer aku katakan samabil tertawa kepada kawanku, " Gitar itu Haram" hahahahaha.
     Akhirnya saya tekun belajar biola dan meghasilkan yang memuaskan, yaitu masih tidak bisa apa-apa. Tapi tidak mengapa, ada pepatah mengatakan " Seorang Ksatria tidak dilihat dari menang dan kalahnya, tetapi dari keberaniannya". Karena apa, karena belajar biola tidak semudah dengan apa yang dibayangkan, prosesnya lumayan cukup lama dan mungkin itu berlaku untuk segala hal. Tetapi yang paling rumit dalam biola untuk yang sebelumnya memainkan gitar adalah memutar logika pemahaman musik. Memahami musik dengan gitar jelas berbeda dengan memahami musik lewat biola. Saya tidak mau mengulas mengenai seluk beluk tentang biola, tetapi suka duka saya dalam belajar biola adalah hal yang sangat penting, the most important than nothing. :)

Sukanya adalah :
1. Memainkan alat gesek ada kebanggan tersendiri, minimal kita bisa memainkan alat musik yang anti mainstream. Biola itu mirip rebab menurutku, tapi edisi eropa. jadi mencintai budaya sendiri dengan memainkan alat musik orang lain. #apasih
2. Bergaya. Dengan memainkan biola kita bisa bergaya dengan gaya Selfie atau dengan menenteng hardcase biola meski di dalamnya kosong tetap ada kebanggannya tersendiri. Tidak percaya ? silakan tanya pada rumput yang bergoyang.
3. Belajar atur nafas. Memainkan biola memang tidak sembarangan, terutama dalam pengaturan nafas. Pengaturan nafas itu penting, karena kalau tidak pernting juga tidak apa-apa. Pengaturdan nafas ini berfungsi supaya udara dalam perut ditarik lewat hidung dan dikeluarkan lewat mulut. Jangan sampai anda mengeluarkannya dari pantat, itu akan menghasilkan irama yang berbeda. Bukan alat musik lagi namanya, tetapi alat tiup. Hahahaha
4. Nilai Spiritual kita meningkat. Ini dikarenakan permainan biola harus menguasai beberapa emosi, sehingga dalam segala hal kita tidak memperlakukan sesuatu harus dengan bijaksana, termasuk biola

Dukanya silakan dibaca : 
1. Harus membeli atau meminjam biola, harz dan bow. Kalau tidak ada sama sekali lantas kita mau memainkan apa ? bermain biola tidak cukup hanya dengan berimajinasi. 
2. Harus latihan. Sudah jelas untuk menguasai hal tertentu kita harus berlatih, berlatih adalah proses, dan proses adalah yang utama, mengenai hasil kita lihat papan pengumuman. ;)
3. Capek. Capek karena kita ingin cepat bisa sementara kemampuan masih itu-itu saja.
4. Gesekan masih tremor atau bergetar, sehingga nada yang dihasilkan tidak stabil malah naik turun.

Mungkin itu ceritaku tentang pergeseran idealisme dalam bermusik. Hahahahaha. Terima kasih sudah mau menyimak dan berkunjung dalam tulisan saya. Ambillah yang bermanfaat, dan kalau tidak, tak mengapa i'm still cool :).    Dadaaaah

Comments

  1. wah, mas Egi pinter main musik juga ya :)

    ReplyDelete
  2. Enggak mas, sedikit aja. ada temen yang ngajarin. :)

    ReplyDelete
  3. The comment has been removed by menkominfo

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja