Ramadhan Di Tanah Leluhurku


     Menurutku Ramadhan adalah pesta yang ditunggu-tunggu, pesta yang tak pernah usai, pesta untuk mendapatkan pahala, mencari berkah, menikmati sajian khas, dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang mungkin sama dengan tempat lainnya, seperti menabuh bedug , menyalakan petasan dan ngabuburit. Sekarang,aku hampir lupa bagaimana merasakan suasana lama Ramadhan di rumah, sebagai anak rantau aku merindukan atmosfirnya. Romantisme ramadhan sangat berpengaruh terhadap kekinianku, bagaimanapun aku dibangun oleh kebiasaan dan warisan tanah leluhurku. Ya, aku selalu rindu untuk bertemu dengan Ramadhan.

     Saat bepergian jauh ke negeri orang yang kemudian terjebak oleh beban pekerjaan, aku sering mengingat hal manis pada masa kecilku. Meski aku hampir lupa nama ayah-ayah mereka, tetapi aku berusaha membangun kesadaran, berimajinasi ulang kejadian yang sudah lama itu. Sebenarnya yang paling melekat dan selalu membuat aku terkekeh-kekeh yaitu ketika mengingat waktu ngabuburit.  Waktu itu kita sepakat membuat lodong / bambu panjang yang dilubangi, lalu dikasih air secukupnya, dimasukan karbit, setelah menunggu beberapa detik langsung dibakar, dan Darrrrr. Bunyinya sangat kencang dan menggetarkan. Lodong yang kami buat ternyata mengakibatkan kekagetan di sekitar rumah kami, ibu-ibu separuh baya dengan cerewetnya memaki kami karena dia merasa terhentak mendengar suara lodong kami yang menggelegar. Sambil marah-marah dia mengejar kami, dibawanya sandal jepit yang ia pakai untuk melempar kami. Kami bertatapan, tanpa berpikir panjang kami langsung berlarian ke berbagai arah. Waktu itu kami sangat takut, takut kena marah si ibu yang sedang naik pitam, bisa saja melaporkan ke ayah kami, atau juga dia membalas dengan lodong kepunyaannya.

     Ada lagi yang lebih mengocok perutku. Waktu itu sebelum Adzan isya tiba, sambil menunggu sholat terawih, kami memang selalu iseng. Di mesjid kampung ada bedug yang masih baru, masih tercium aroma kulit domba. Ya itu bedug baru, karena bedug yang sebelumnya dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mungkin juga dirusak oleh alien. Anak-anak kampung selalu menabuh bedug dengan irama dan ketukan yang khas, sambil berjoget-joget anak-anak ini tidak menyadari kedatangan kami. Kawanku yang satu mendelikku, tersenyum jahat sambil menyalakan petasan korek, kemudian dilempar ke kumpulan anak-anak itu, kemudian Darrr ! Mereka tersontak kaget, semunya diam dan bedug pun berhenti ditabuh. Sebenarnya mereka ingin marah, tapi tidak jadi, mungkin sedang terbawa suasana Ramadhan, bawaannya pengen sabar terus. 

     Itu hanya sebagian diantara kekonyolan masa laluku di waktu Ramadhan, masih banyak lagi hal-hal yang aku rindukan. Ini ada beberapa hal penting di bulan Ramadhan yang sangat aku rindukan.
  1. Bermain Lodong
    Di kampungku memang sudah menjadi tradisi atau mungkin warisan leluhur, hingga ketika menyambut ataupun sedang berlangsungnnya Ramdhan, kami berlomba membuat lodong. Lodong ini hanya potongan bambu yang dikasih lubang, untuk nanti dimasukan air dan karbit secukupnya, setelah beberapa detik lalu disulut dengan api. Dan hasilnya akan terdengar suara yang menggelegar. Dari para orang tua dan anak-anak sampai sekarang masih tetap menjaga permainan ini. Dan konon katanya, lodong ini adalah senjata bunyi sebagai tipuan untuk mengusir penjajah Belanda. 


  2. Petasan
    Petasan merupakan mainan yang berbahaya, dan sekarang sudah dilarang untuk pembuatan dan pengedarannya, bahkan bisa dipidanakan dan didenda. Namun zaman dulu bahkan mungkin sekarang masih banyak, petasan memang sangat digemari oleh anak-anak, selain menghasilkan ledakan kecil, juga menjadi hiburan tersendiri. Disamping tidak ribet seperti pembuatan lodong, petasan sangat praktis dan bisa dibeli dengan harga murah. Dulu ketika Ramdhan tiba, anak-anak selalu bermain petasan ini, ada yang bernama petasan korek, segitiga, kembang api, karapan sapi dan banyak lagi. Sayangnya sekarang sudah dilarang, karena memnag sangat berbahaya dan banyak madzaharatnya.

  3. Menabuh Bedug
    Suara bedug yang mendayu-dayu, dengan pola dan tempo yang berbeda-beda, sering mewarnai atmosfir Ramadhan yang ceria. Penabuhan bedug ini sering dilakukan sambil ngabuburit, sebelum sholat trawih atau pada puncaknya ketika malam takbiran. Untuk ukurannya bermacam-macam, ada yang kecil, sedang atau lebih besar, namun pada intinya sama terbuat dari kulit. Yang sangat khas adalah bedug yang berukuran sedang, karena setiap orang bisa menabuhnya.

  4. Kolak Pisang
    Sajian spesial di bulan Ramadhan yang ditunggu-tunggu adalah kolak pisang. Kolak pisang ini rasanya sangat istimewa, sampai lidah kita tak mampu mengatakan bagaimana rasanya yang manis. Kolak pisang ini dibuat dengan cara mendidihkan air panas yang sebelumnya dimasukan beberapa gula merah, setelah benar-benar mendidih lalu dimasukan potongan pisang. Setelah dianggap matang, maka jadilah kolak pisang dengan komposisi gula merah, pandan dan pisang. Namun ada beberapa pisang yang bisa diolah menjadi kolak, yaitu pisang tanduk dan pisang kepok kuning atau pisang uli. Hmm jadi kebayang bagaimana rasanya.

     Itulah beberapa hal penting dan kebiasaan masyarakat ketika penyambutan atau sedang berlangsungnya bulan Ramadhan. Di beberapa tempat mungkin berbeda, namun kebanyakan memang melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti di atas. Terima kasih sudah menyimak, semoga menjadi pencerahan dan mengingat kembali bagaimana spesialnya bulan Ramadhan.



Comments

  1. Kurang beberapa bulan lagi RAMADHAN udah datang mas ...
    Saya paling suka main LODONG (Blenggor didaerah saya) sama tadarus itu gan, di tambah lagi patrol :D
    like ^_^

    ReplyDelete
  2. hehe iya mas, eh makasih atas kunjungannya. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja