Menulis Bersama Sultan
Lima tahun yang
lalu, ringan kaki melangkah mengikuti ibu jariku, sekedar mengobati rasa
penasaran untuk hidup mandiri di Jogyakarta. Sebelumnya aku tidak tertarik
dengan pesonanya yang bersumber dari kabar burung, karena hanya dari mulut ke
mulut aku mengenal kota jogja, katanya di kota ini sumber peradaban, sadar
multikultural dan miniaturnya Indonesia. Ah, aku tidak perlu tahu lebih jauh,
yang penting aku akan merantau ke kota monarki ini.
Dengan bekal
do`a tulus dan rasa percaya, meski dengan kereta ekonomi yang usang, aku bisa
menghirup suasana baru yang asing. Stasiun lempuyangan, titik awal sejarah
kebisuan, dengan kegelisahan-kegelisahan yang memuncak, di sini aku baru
berpikir. “harus mulai dari mana?”
Persepsi awal
manusia dari komunal modernisme, selalu menganggap biasa terhadap keadaan yang
baru saja dilewatinya. Padahal sebelumnya, kota yang dia tinggalkan hanya kota
kecil, kumuh dan jauh dari kemapanan. Namun sekarang dia bisa menyaksikan
gedung-gedung menjulang tinggi, jalan raya yang rapi, dan keteduhan suasana
yang membuatnya iri. Namun dia malu untuk mengakuinya.
Wajah orang di
sini, seperti beringas tapi nyatanya ramah-ramah. Di pinggir jalan aku masih
berdiri, pak tua dengan senyum basah mendatangiku, mengobrol sebentar,
menawarkan jasa becak, dan kita langsung terbang. Riuh rendah angin melambai
sesekali menamparku manja, diterbangkannya asap rokokku. Aku berhenti di depan
rumah sakit. Kusampaikan salam
perpisahan untuk pak tua dan becaknya.
Perjalanan yang cukup
panjang ternyata banyak menguras energi, kini mataku dimanjakan dengan
pemandangan baru, di sebelah sana terlihat warung kecil dipenuhi dengan
jajanan-jajanan sederhana, tapi banyak juga penikmatnya. Sambil malu-malu aku
mendekat, mencicipi sajian aneh, makanan yang serba manis, ada pula sate dan
telor puyuh yang dipanggang, kemudian aku mengenalnya dengan kata Angkringan.
Pada awalnya
lidahku kelu, dengan rasa tawar berusaha menolak, mungkin karena ketidak-biasaan
menerima makanan baru. Dalam hati aku tersadar, ternyata masih banyak aneka
ragam kuliner di Indonesia ini. Oh sekarang aku kenyang…
Masih berbenah
diri dan mengumpulkan nyawa, setelah kubayar, aku melangkah ke tempat yang aku
tidak tahu dimana itu. Terlepas dari pikiran awal, aku menyaksikan sebuah
kebudayaan, bisa dibilang adat jawa yang menurutku masih asing. Aku berusaha
bijaksana dalam menyikapinya, tidak perlu aku membuka luka lama mengenai
perseteruan suku sunda dengan suku jawa. Yang penting, kita sama satu Negara.
Di atas trotoar
panjang, langkah kakiku semakin tak menentu. Kembali aku termenung sejenak,
bagaimana besok aku bisa makan. Sementara uang sisa ongkos sudah tinggal
recehan kecil, aku sudah mulai pasrah. Entah bagaimana aku menyiasatinya,
malingkah? Atau membobol atm? aku rasa itu mustahil.
Kubuang puntung
rokok, lalu kuinjak sampai mati bara apinya. Jaket yang masih melekat sebentar
kubuka, panasnya jogja kini mulai membakar kepala. Suhu kota besar memang
selalu panas, entah karena polusi, atau mataharinya menjadi dua, pepohonan yang
jarang, atau suasana orang yang panas?
Alam bawah sadar
yang membawaku dalam persepsi negatif mulai datang, jalin-menjalin menjadikan
konsep awal tentang nilai humanistik yang semakin kulihat, entah hilang dibunuh
oleh kepentingan atau masyarakat kota
yang acuh terhadap sesamanya.
Masih menelusuri
jalanan malioboro yang panjang, kiri kanan pernak pernik, batik yang berjajar,
kawasan kota yang masih menyimpan tradisi yang kuat, tetapi kapitalisme rupanya
sudah sangat kuat. Mini market semakin merajalela, pedagang kaki lima yang
tatapannya kosong ketika menyaksikan riuhnya orang berjalan menuju ke tempat
perbelanjaan kapitalis itu.
Aku semacam
manusia galau, kegusaranku hanya sampai pada ide dan perasaan. Karena aku tidak
bisa untuk mengimbangi siapa mereka yang memiliki modal, sekarang pun aku masih
diam, lapar dan kehausan. Di ujung jalan sana, di balik benteng vredebeurg,
suasana eropa kusaksikan. Selintas aku melihatnya seperti di film-film amerika,
tapi kata orang inilah nol kilometer jogja.
Aku diam sejenak
di kursi yang ditembok sekitaran benteng itu, pedagang asongan rokok yang malang,
mondar-mandir di depanku sambil tersenyum berharap rokoknya kubeli. Tetapi apa
mau kuperbuat, uangku sudah tidak cukup untuk membelinya. Maaf!
Masih terpukau
dengan suasana jogja yang tenang, kini hari sudah menjadi sore. Anak-anak muda
yang sedang mengasah keremajaannya, gadis-gadis manis membawa kamera yang
tergantung di lehernya, mungkin mahasiswa pikirku. Pengamen-pengamen dekil yang
tercium aroma ciu. Ah sore begini
sudah terasa aroma kotanya.
Menahan lapar
bagiku sudah biasa, bahkan aku pernah kelaparan selama dua hari dua malam, ini
belum seberapa menurutku. Kalaupun boleh aku berpendapat, manusia tidak perlu
makan, yang perlu dia lakukan hanya berpikir dan bertindak. Tetapi nyatanya
konsepku terbentur dengan perut yang semakin lapar. Aku tidak jadi berpendapat
begitu. Soal makan, itu insting manusia
yang tidak bisa dihilangkan.
Mengingat masa
mudaku yang dulu, waktu-waktunya yang usang telah kujadikan lebih bermakna
ketika memetik gitar, sambil menyanyikan beberapa lagu ciptaanku, aku sempat
punya Band yang tidak terkenal. Dasar masa lalu, lirihku.
Kalaupun aku
harus kembali ke jalan itu, mengembangkan potensi diri yang sudah terkubur,
hingga susah lagi untuk membangunkannya, tetapi soal perut mungkin bisa menjadi
pressure yang sangat kuat untuk
melakukannya. Tarian-tarian pengamen itu membujuku, seolah ada romantisme masa
lalu yang manis. Aku tersenyum sebentar, lagu regae semakin bergemuruh, sambil
tepuk tangan para wisatawan memberikan uang recehnya. Sekali lagi, aku ingin
ikut mengamen.
Rambutnya
gimbal, wajahnya yang hitam dan rambut merah, mungkin terlalu lama dibakar
matahari. Sambil kuperhatikan dari kejauhan, dia sepertinya sedang berpikir
panjang, menghisap rokoknya perlahan dan membuangnya dengan beringas, lalu
masuk ke kerumunan pengamen tadi. Mungkin dia diantara mereka yang memainkan musik dari afrika itu.
Sebentar kubuka
tas kecil di pinggangku, kuambil beberapa kertas tebal yang tertera jumlah dan
nilai dari ijazahku. Kupandangi sebentar, seandainya kertas ini tidak
memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu yang sangat panjang, pasti akan kurobek
sekarang juga. Aku sempat heran, ijazah hanya kertas biasa yang dibuat di
pabrik kertas, yang bahan dasarnya adalah kayu, tetapi kemudian kenapa kita
menganggapnya hal yang sangat berharga dan tabu untuk kita caci maki. Karena
rupanya dia masih terdiam tidak bisa membantu rasa laparku, tapi sayang jika
itu tidak ada, nanti akan kujadikan hiasan di depan ruang tamu rumahku. Aku masukkan
kembali dan tidak jadi kurobek.
Habermas pernah mengemukakan pendapatnya mengenai
beberapa kelompok manusia dilihat dari sudut geneologinya, katanya ada tiga
kelompok manusia : yang pertama adalah komunal priminif, kemudian feodalisme
dan generasi kapitalisme. Memang pada kenyataannya kapitalisme sedang menguasai
dunia, namun secara perlahan dia akan bunuh diri sesuai dengan yang dikatakan Karl marx. Aku yang diam di pusat kota
ini, sedang menyaksikan pertarungan antar kelas yang sama-sama saling melawan.
Aku memilih diam saja, dan ikut mengamen.
Pada awalnya aku
tidak percaya, karena perlu proses yang panjang untuk bisa kenal dengan pengamen jalanan itu. Tetapi
dengan keberanian yang memuncak, akhirnya aku memberanikan diri berkenalan
dengan mereka, dan meminta izin bergabung memainkan musik di tengah riuhnya
kota. Akhirnya mereka mengijinkan untuk bernyanyi ria.
Tidak terasa
malam ternyata sudah turun, diselimuti lampu neon merkuri aku menikmati kopi
yang sudah mendingin. Keringatku sudah reda, hasil mengamen sudah ada dalam
perut, sekarang aku sedang merokok dan menimati indahnya jogja yang tenang. Aku
membuka kertas berisi tulisan-tulisanku, hanya menambahkan coretan kecil sampai
satu kata, kalimat hingga menjadi paragraf. Aku sedang menulis puisi.
Keasyikanku
menulis puisi terlampau lama, hingga malam sudah hampir pagi, aku masih
menulis. Dan akhirnya aku punya ide, bagaimana kalau sekarang aku belajar
menulis, apakah berbentuk artikel, opini, cerpen, novel atau puisi. Setelah ada
niatan itu, aku mulai berani mengambil resiko, semoga aku menjadi penulis di
hari kemudian.
Pada awalnya aku
sempat bosan, beberapa surat kabar tidak pernah menerima naskah saya, mungkin
dilirik juga tidak pernah. Tetapi mungkin ini hanya proses, kita harus
menghargai sebuah proses.
***
Lima tahun
kemudian, rasa-rasanya di sini aku bisa berpikir tenang, kebisingan yang terasa
sunyi, masyarakat kota yang ramah, membuatku semakin rindu dengan kota ini. Dulu
pertama jumpa dengan tugu jogja, aku menyimpan bangga, aku menyaksi jaya,
karena aku hidup di sini.
Namun kini,
orang-orang sudah tidak menjaga kota berhati nyaman ini, para pemabuk resah
mengacau, pengemis dan anak jalanan sudah tidak punya idealism lagi. Karena
jika seni untuk seni adalah onani. Buat apa.
Aku berproses
menjadi penulis justru karena kalian, meski pengamen tetapi punya andil besar
dalam membangun bangsa, dengan gagasan-gagasan ala pengamen justru aku bisa
menganalisa sesuatu, masyarakat kecil selalu ditindas, tapi sekarang kalian
dimana? Jalanan ini sudah sudah sepi dari ideologi.
Aku tersadar dalam
beberapa detik, mengenang beberapa kenangan manis di jalanan, berproses di
surat kabar, jauh dari siapa-siapa, berkumpul dengan komunitas-komunitas, dan
menikmati sajian warung kopi yang teramat pahit. Beberapa tulisanku justru
kebanyakan diilhami oleh kesaksian kalian dalam hatiku.
Sekarang buku
pertamaku sudah terbit, sebetulnya aku tidak menyangka, padahal kalau dibaca
lagi ternyata bukuku tidak ada
apa-apanya dibanding dengan “di bawah
lindungan ka`bah” atau “ia yang
bertualang”. Aku hanya penulis musiman, ketika tidak punya uang berarti
menulis.
Kerinduankku
hanya sebatas tai burung. Jatuh seenaknnya di kepala orang yang kemudian
marah-marah karena aku membuangnya sembarangan. Seperti itulah, aku juga bukan
penduduk asli di sini, aku hanya dekat secara emosi. Tetapi aku mengenal jogja
bukan sebatas geografis saja. Tetapi menyoal perasaan.
Aku melihat di sekitar, sekarang mahasiswanya juga sudah hedonis. Gelar kota pelajar itu apakah masih pantas diberikan, jika pelajarnya sendiri sudah tidak adil sejak dalam pikiran, kata Pramudya. Jikapun merasa sudah adil sejak dalam pikiran, apakah perbuatanya juga sudah adil?
Aku melihat di sekitar, sekarang mahasiswanya juga sudah hedonis. Gelar kota pelajar itu apakah masih pantas diberikan, jika pelajarnya sendiri sudah tidak adil sejak dalam pikiran, kata Pramudya. Jikapun merasa sudah adil sejak dalam pikiran, apakah perbuatanya juga sudah adil?
Aku yang
sekarang merasa sudah bisa menulis, itu berarti sifat sombong tetap saja tidak
bisa dihilangkan, ini indikasi belum adil dalam pikiran. Seharusnya aku jangan
pernah merasa cukup dan bangga.
Memang benar
kata orang, seseorang akan mengenali dirinya ketika dia berusaha beradaptasi dengan
lingkungan barunya secara total. Akupun begitu, pertama kali memang bahasa jawa
teramat asing di telingaku, tetapi kini aku bisa memahami dan melafalkannya
dengan mudah. Aku bisa menulis dan mengamen. Aku pikir ini sebuah
prestasi.Tetapi buat apalah prestasi, jika prestasi itu tidak mengangkat sama
sekali nilai kemanusiannya.
Aku pernah
bertanya pada semut, salahkah aku yang sekarang tumbuh besar di sini, sementara
aku tidak pernah membalasnya dengan yang sebanding dengan keramahannya.
Mendidikku dengan sedemikian rupa, hingga aku menjadi orang sudah besar bukan
secara biologis saja, namun akal dan pemikiranpun sudah menjadi matang.

Comments
Post a Comment