Menyoal Pendidik Yang Bermoral


Oleh : Egi Azwul Fikri

Bibit unggul sebuah generasi modern akan mencapai klimaks peradabannya ketika unsur pengetahuan disandingkan dengan proses insepsi faham yang berkelanjutan. Beberapa pilar penting yang mampu menrasferkan ilmu diantaranya adalah pendidik.  Namun untuk lebih spesifik, penulis mencoba untuk mengkerucutkan soft skill dari pendidik itu sendiri.
Azyumardi azra, pernah mengomentari sebuah proses pembelajaran. Menurut beliau, bahwasanya pendidik itu tidak cukup melakukan transfer of knowledge, tetapi juga lebih kepada transfer of value. Jika selama ini pendidik hanya memberikan ilmu, tentu sangat tidak sempurna apabila character building tidak tercapai. Maka ilmu itu akan sia-sia. Dikarenakan sisi kognitif manusia memang bisa dikembangkan, namun proses pencarian jati diri dan ruhani harus diutamakan. spiritualisme ?

Seorang pendidik yang dapat mencapai pada tingkat keprofesionalan masih sangat sedikit, meski pada kenyataanya strata akademik ataupun strata sosial sudah mumpuni. Untuk mencapai titik profesional memang sangat tidak mudah, namun proses untuk mencapainya tentu bisa dilaksakan secara bertahap dan berkelanjutan. Dan proses itu bisa dilaksakan ketika seorang pendidik memahami secara gamblang mengenai apa tujuan utama pendidikan, yaitu Humanisasi.

Dalam teori konvergensi, bahwasanya manusia tidak cukup secara genetik bisa dikembangkan potensi dirinya, tetapi juga lingkungan ikut serta dalam membangun proses pembelajaran anak didik. Nah, pendidik di sini memposisikan dirinya dalam lingkungan proses pembelajaran, hingga peserta didik bisa mengambil suri tauladan dari gurunya.

Seringkali ditemukan kesalahan dalam pengejawantahan bahasa suri tauladan, seorang pendidik yang bagaimana hingga dikatakan suri tauladan? Yaitu pendidik yang bijaksana dalam menyampaikan ilmunya, serta berprilaku baik dalam lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah. Dengan begitu bisa dikatakan pendidik sebagai suri tauladan bagi anak didiknya.

Kompetensi pedagogik, sosial dan profesional seorang pendidik memang diperlukan, namun ada yang lebih penting daripada itu, yakni kompetensi kepribadian. Mengapa demikian? Dikarenakan beberapa kompetensi akan terbangun jika kompetensi kepribadian ini tercapai. Semacam pondasi awal yang harus kokoh, untuk menopang bangunan yang kokoh juga.

Kompetensi kepribadian menyangkut pribadi pendidik itu sendiri, yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian yaitu kedewasaan. Adapun macam-macam kedewasaan bisa dipahami sebagai berikut ; kedewasaan secara biologis, berarti matang dari segi umur dan fisik. Kedewasaan secara mental berarti matang secara psikis serta kedewasaan secara pemikiran berarti matang dalam berpikir induktif dan deduktif.

Dalam perjalanannya, istilah pendidik mengalami perubahan nama, sebelumnya pendidik terkenal dengan istilah guru. Mungkin mengenai istilah guru oleh para ahli pendidikan ditakutkan akan terjadinya kediktatoran dan otoritas seorang guru, atau guru bersifat sentral. Setelah mengalami beberapa pergeseran, istilah guru kemudian dihapus menjadi pendidik.

Pada kenyataanya seorang pendidik ketika menyampaikan ilmu pada proses pembelajaran, seringkali terjadi miss interpretasi mengenai bahasa-bahasa yang sifatnya menggurui. Seperti seorang pendidik ketika mengatakan “jadi”, seolah-olah kata tersebut merupakan proses penyeragaman berpikir peserta didik. Seharusnya kata “jadi” tidak perlu diucapkan, karena akan menimbulkan penyeragaman tadi, hingga cukup saja guru menerangkan dengan tidak ada niatan penyeragaman itu.

Seorang pendidik yang berhasil dalam menyampaikan pelajarannya, yaitu ketika para peserta didik mengucapkan kata “oh” kemudian mengangguk. Itu di anatara indikasi tersampaikannya materi, dengan tidak ada paksaan untuk mengerti apalagi pressure yang mengakibatkan stressnya siswa. Adapun metode-metode yang digunakan bisa diinovasi ke dalam kemasan yang lebih menarik perhatian siswa.

Gelar pahlawan tanda jasa ternyata masih melekat dalam tubuh seorang pendidik, sebetulnya ada ketakutan-ketakutan jika gelar itu masih melekat. Bisa saja menjadi arogan, atau akan nampak sisi pragmatis pendidik. Namun sampai saat ini, mudah-mudahan tidak seperti itu. Karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang memberikan manfaat terhadap sesamanya.

TERIMA KASIH


Comments

  1. ini bukan cerita bung,,,
    semacam artikel,,,
    HAHAHA

    ReplyDelete
  2. Menarik Mas artikelnya... moga dapat terwujud ya pendidik yang bermoral..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja