Optimis Negatif dan Pesimis Positif
Meminjam catatan seorang kiyai yang tidak memimpin pesantren, juga tidak pernah memberikan ceramah keagamaan, dialah Pidi baiq tulen. Konsep pesimis positif yang membuat pemikiranku gerah, seakan keluar dari konsep lama yang membuat kita selalu percaya bahwasanya optimis itu harus kita lakukan sebelum melakukan atau sedang melakukan sesuatu. Namun dengan celetukan bermakna ini, seolah mengubah mind set saya pribadi mengenai keyakinan akan sesuatu. Saya akan memberikan analogi pesimis positif; Saya yakin akan ditolak oleh perempuan itu, jadi ketika dia benar-benar menolak, maka tidak perlu ambil pusing karena pada awalnya sudah yakin akan ditolak. Ini contoh kecilnya.
Memang benar dan mantra yang sangat sakti, karena dengan begitu kita tidak akan menjadikan sesuatu menjadi persoalan yang teramat sulit, cukup dengan yakin akan ditolak maka kau tidak akan pernah sulit untuk melewatinya. Sebenarnya kalau sepintas, ini hanya joke yang tidak bermakna, namun saya yakin akan memberikan pencerahan mengenai konsep pemikiran mengenai kehidupan. Tidak terlepas dari Realisme, menjadikannya paham mengenai tingkat kenyataan yang berdasarkan pemikiran, Pidi baiq mencoba membantah ini, karena memang manusia selalu tergantung dengan sugestinya sendiri dan pusat dunia adalah pribadinya. Keadaanya diciptakan oleh dirinya, buat apa kau bersedih? Karena kau sendiri yang memilihnya untuk bersedih, kecuali jika kau tidak menghendakinya maka dari dulu kau sudah membuang kesedihannya.
Setelah hipotesa diatas, saya mencoba menawarkan konsep tambahan mengenai optimis maupun pesimis, yaitu optimis negatif. Konsep ini justru keluar setelah saya memahami secara gamblang mengenai pesimis positifnya Pidi baiq, konsep ini kebalikan dari kejeniusan beliau, karena dengan begitu bisa melahirkan konsep baru bahkan menjadi ribuan konsep pada masa yang akan datang. Insya Alloh.
Optimis negatif maksud saya, bisa diambil analogi. Ketika saya akan ujian, saya yakin akan mendapatkan nilai yang memuaskan, tetapi pada waktunya saya malah mendapat nilai yang sangat jelek bahkan lebih dari jelek. Sehingga menjadikan saya marah pada diri sendiri, kepada dosen, bahkan marah sama tuhan. Padahal itu semua tidak perlu. Nah ini yang menjadikan optimis itu negatif, oleh karena itu kita jangan optimis tetapi harus pesimis, bukan berarti kita tidak usaha, tetapi jangan terlalu yakin terhadap sesuatu.
“Jika pendapat saya salah, kalian harus tetap mengangguk, supaya kalian mengakui bahwasanya masih ada yang Maha Benar, yaitu Tuhan” Cc : Pidi Baiq

Comments
Post a Comment