Iraha Urang Rek Kawas Waktu Ka Tukang ?[1]


Beberapa lamunan sering datang di waktu yang tak tepat, saat tengah malam bercampur sunyi atau sedang menciumi aroma toilet. Lamunan yang bercampur aduk itu di antaranya adalah kerinduan mendalam dan ratapan penyesalan atas apa yang telah terjadi. Ya, manusia tidak bisa melawan Batara Durga atau Batara Kala. Kenangan yang datang bergantian seolah hanya bisa dijawab dengan menutup mata sembari tersenyum.
Manusia tidak akan menang melawan kenangan yang membekas bagi dirinya, permanen dalam kepala, disimpan dalam-dalam. Meski terkadang di dalam kenangan terdapat luka, usah diusik, karena luka akan mengering dengan sendirinya. Biarkan setiap luka dalam kenangan menjadi hal yang pantas untuk diingat. Meskipun dahulu kita tidak sadar atas apa yang telah dilakukan, salah atau pun benar kita tidak mengira ternyata di waktu sekarang hal itu bisa terbayang ulang secara detail, tiap inci dan tiap unsurnya. Otak merekam segala visual dan audio, meski tidak mencapai 100%.
Kemampuan otak manusia jika dibandingkan dengan hewan, tentu sangat jauh berbeda, karena otak manusia mampu mengingat hal paling berharga bagi dirinya, apakah kenangan pahit  akan terulang, kenangan hanya sebatas kenangan atau dia terjerumus kembali untuk melakukan kesalahan ? Dalam hidup, putih tak selalu bersih, hitam tak selalu kotor, terkadang ada alasan kuat untuk mengambil keputusan, karena seburuk-buruknya keputusan tetaplah keputusan.
Pertahanan manusia paling dalam adalah alasan, alibi untuk mempertahankan diri, membenarkan diri dalam memaafkan segala kesalahan. Keindahan masa lalu selalu menawarkan pengandaian atas apa yang terjadi sekarang, seolah-olah penyesalan itu tidak pernah sebenar-benarnya mengampuni kesalahan. Ingat pepatah seseorang “Jangan takut kesalahan, karena bijaksana datang setelah kesalahan”. Pelajaran yang kudapat sekarang berupa dorongan untuk selalu introspeksi diri, membenahi kerancuan hidup dalam meyakinkan orang lain. Tetapi, betapa pun berat kesalahan yang diperbuat, LIFE MUST GO ON.
Yogyakarta, 9 March 2015




[1] Lirik lagu Yayan jatnika, yang artinya Kapan kita seperti waktu yang telah lalu

Comments

Popular posts from this blog

Caina Herang Laukna Beunang

Menunggangi Gunung

Buku Puisi Dengan Tidak Sengaja