Laron Sang Bikkhu
Laron menerbangkan sayapnya mencari matahari. Awal musim hujan seperti tetabuhan genderang untuk membuka arena menghancurkan diri, laron bermunculan keluar dari lubang kayu keropos atau tanah yang dipenuhi oleh humus. Aku berlari bersama teman-temanku lalu menangkapnya, kemudian kumasukan satu-persatu ke sebuah wadah dari plastik. Laron yang berterbangan seperti peluru yang keluar dari magasin. Itu dahulu, sebelum aku tahu bahwa laron tanpa ditangkap pun pasti akan mati. Bahkan, ketika malam hari, laron terbang memutari terang lampu, orang tuaku sering mengisi air dalam belanga, lalu menyimpannya tepat di bawah lampu itu. Laron pun tertipu, mereka melihat pantulan cahaya lampu di air, ketika hinggap, mereka terjebak dalam belanga, sayap-sayapnya patah kemudian perlahan mati. Aku mengingat itu sebagai filosofi harakiri atau sepuku, membiarkan diri mati karena harga diri, sementara laron bunuh diri hanya sebatas menemukan cahaya, sebuah keniscayaan untuk membuktikan bahwa diri benar...